Heri Mahbub
Mengapa perintah pertama dari wahyu Al-Qur’an adalah "Bacalah"? Temukan kisah mendalam turunnya Quran, hakikat wahyu, dan pesan abadinya bagi kita hari ini. Dari Gua Hira hingga hati kita.

Quran Cordoba - Dalam kesunyian Gua Hira, di malam yang penuh berkah, sejarah manusia berubah selamanya. Saat itu, seorang lelaki ummi yang tengah beruzlah tiba-tiba mendapat kunjungan agung.
Sosok cahaya muncul, malaikat Jibril, datang dengan sayap memenuhi langit, lalu terdengar suara yang mengguncang jiwa namun menentramkan: “Bacalah!”
Lelaki itu, Muhammad ﷺ, menjawab polos, “Aku tidak bisa membaca.” Perintah dan jawaban yang sama terulang tiga kali, sebelum akhirnya sang malaikat menyampaikan wahyu pertama:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
Inilah momen monumental: “Iqra” (Bacalah) menjadi kata pembuka dari risalah abadi. Ia bukan sekadar perintah membaca huruf, tapi sebuah undangan Ilahi untuk membaca alam semesta, membaca diri sendiri, membaca sejarah, peradaban dan membaca takdir—semuanya dengan nama Allah.
Wahyu yang turun bukanlah produk budaya atau kontemplasi manusiawi, melainkan firman langsung Sang Pencipta. Kalamullah yang terjaga abadi.
Secara bahasa, ‘wahyu’ berarti pemberitahuan atau isyarat yang tersembunyi dan cepat. Dalam term Islam, wahyu adalah cara Allah menyampaikan hukum, bimbingan, dan firman-Nya kepada para Nabi dan Rasul.
Ia adalah sumber ilmu dan syariat yang murni, membedakan seorang Nabi dari manusia lainnya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya.” (QS. An-Nisa’: 163).
Ini menegaskan kesatuan sumber wahyu seluruh Nabi. Namun, Al-Qur’an sebagai wahyu terakhir memiliki keistimewaan: ia adalah Kalamullah yang munazzal (diturunkan secara langsung) dalam bahasa Arab yang murni, terjaga keasliannya, tanpa campur tangan malaikat dalam penyusunan bahasanya, apalagi syaitan.
Proses penerimaan wahyu oleh Rasulullah ﷺ adalah pengalaman fisik dan spiritual yang sangat berat. Kadang Malaikat Jibril datang menyerupai manusia, kadang suara wahyu datang seperti gemerincing lonceng—yang ini paling berat.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menggambarkan: “Aku pernah melihat wahyu turun kepadanya di hari yang sangat dingin. Namun, ketika wahyu itu selesai, keningnya selalu penuh dengan keringat.” (HR. Bukhari).
Ini membuktikan wahyu adalah pengalaman yang nyata, keajaiban bukan sekadar ilham batin.
Setelah wahyu pertama, datang masa fatratul wahyi (kekosongan wahyu) yang terasa lama dan mencemaskan bagi Nabi ﷺ. Hingga pada suatu hari, beliau melihat Jibril dalam wujud aslinya di ufuk langit.
Peristiwa ini mengawali turunnya wahyu kedua, QS. Al-Muddatsir, yang berisi perintah untuk mulai berdakwah secara terbuka.
Sejak itu, wahyu turun secara bertahap selama 23 tahun, menyesuaikan dengan peristiwa dan menjawab pertanyaan yang muncul.
Setiap ayat turun, Rasulullah ﷺ langsung menghafalkannya dan memerintahkan para sahabat pencatat wahyu (kuttab al-wahyi) seperti Zaid bin Tsabit untuk segera mendokumentasikannya di atas pelepah kurma, kulit, batu, dan tulang.
Proses talaqqi (mendengar langsung dari lisan Nabi), hafalan dan penulisan inilah yang menjadi jaminan keotentikan Al-Qur’an.
Kesabaran Nabi dalam menunggu wahyu untuk menjawab suatu masalah—seperti dalam kasus tuduhan palsu terhadap Aisyah yang menunggu turunnya QS. An-Nur—menunjukkan bahwa beliau tidak bisa membuat-buat wahyu sendiri. Beliau hanyalah penyampai yang setia.
Di tengah hiruk-pikuk informasi hari ini, penuh distorsi, pesan “Iqra” justru semakin relevan. Namun, “membaca” seperti apa yang dimaksud?
1. Membaca dengan Nama Tuhan (Bismi Rabbik): Ini adalah kunci. Membaca Al-Qur’an, membaca ilmu pengetahuan, membaca kehidupan, harus dimulai dengan mengingat Sang Pemberi Ilmu. Ini melahirkan sikap tawadhu, bahwa semua ilmu bersumber dari-Nya.
2. Membaca yang Melahirkan Aksi (Al-Qalam): Wahyu pertama menyebut “qalam” (pena). Membaca yang hakiki harus menghasilkan “tulisan”—yakni perubahan dalam diri, catatan amal baik, dan kontribusi nyata bagi peradaban.
3. Membaca untuk Mengenal Yang Tak Diketahui: Tujuan akhir membaca wahyu dan ayat-ayat kauniyah adalah memperluas cakrawala iman dan ilmu, menyingkap kebesaran Allah yang tak pernah habis.
Klaim sebagian orientalis bahwa Al-Qur’an adalah hasil intuisi Nabi yang jenius terbantahkan dengan fakta:
· Kondisi Psikologis Nabi: Reaksi ketakutan, kegelisahan, dan fisik yang terbebani saat wahyu turun pertama kali menunjukkan ini adalah pengalaman eksternal yang diterima, bukan karya sendiri.
· Sifat Ummi Nabi: Bagaimana mungkin seorang yang tidak bisa membaca dan menulis (ummi) menghasilkan karya sastra dengan kedalaman linguistik, hukum, sejarah, peradaban dan kosmologi yang tak tertandingi?
· Tantangan Abadi: Al-Qur’an sendiri menantang siapa pun untuk membuat satu surat saja yang semisal. Faktanya, para sastrawan Arab terhebat sekalipun tak mampu menjawabnya.
Ini membuktikan wahyu bersifat metahistoris—melampaui ruang, waktu, dan kapasitas manusia.
Wahyu adalah cahaya yang turun dari langit, sementara puisi, syair, dan filsafat adalah kilauan api dari bumi. Keduanya berbeda sumber dan substansi.
Ketika Jibril memeluk Nabi ﷺ hingga tiga kali dan menyuruhnya membaca, di situlah Allah mengajarkan bahwa jalan menuju-Nya dimulai dari membuka lembaran baru.
Membaca wahyu Al-Qur’an bukan ritual pasif, tapi dialog aktif dengan Sang Pencipta.
Turunnya Quran awal anugerah terbesar. Mari kita jawab panggilan “Iqra” itu dengan setia: membaca mushaf dengan tadabbur, membaca alam dengan tafakkur, dan menuliskan karya terbaik dengan tinta keimanan.
Sebab, di setiap zaman, wahyu selalu menunggu untuk dibaca, dihidupkan, faham dan amal dengan hati yang rindu akan petunjuk.
Wallahu’alam

.jpeg)