Heri Mahbub
Mengapa sulit memahami Al-Quran? Bagaimana caranya Tadabur? Temukan 5 penghalang utama yang menghambat hati dari cahaya Inspirasi Qurani, lengkap dengan solusi dan dalil untuk membuka pintu hidayah-Nya. Mari kembali ke petunjuk sejati.

Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai Ruh (penyemangat), Nur (cahaya), dan Syifa (penyembuh) bagi umat manusia. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sang pemberi teladan dalam memahami dan mengamalkan wahyu. Sebagai the living Quran.
Al-Quran adalah lautan hikmah yang tak bertepi, sumber Inspirasi Qurani yang tiada henti mengalirkan petunjuk bagi setiap persoalan diri.
Namun, kerap kali kita merasakan jarak yang seolah menganga antara diri dengan Kitabullah. Membacanya terasa hambar, memahaminya terasa berat, dan mengambil inspirasinya pun terasa sulit.
Di manakah letak penghalangnya? Tulisan ini akan mengajak kita melakukan muhasabah (introspeksi) untuk mengidentifikasi dan meruntuhkan dinding-dinding yang menghalangi hati dari memahami dan merasakan manisnya faham Al-Qur'an.
Banyak di antara kita yang terjebak dalam rutinitas. Membaca Al-Qur’an sekadar untuk mengejar target khatam, sebagai pelengkap ibadah harian, atau—na’udzubillah—agar dipandang alim, suci.
Padahal, kunci pertama menerima ilmu adalah ikhlas. Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan memasuki hati yang dipenuhi oleh noda riya’ dan sum’ah.
Allah berfirman:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus...” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Tanpa niat yang lurus semata-mata karena Allah, interaksi kita dengan Al-Qur’an hanya akan menjadi aktivitas fisik, tidak menyentuh sanubari. Inspirasi Qurani hanya mengalir deras kepada hati yang tulus merindukan sang Pemilik Kalam.
Al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab yang jelas (bilisanin ‘arabiyyin mubin). Mengabaikan upaya untuk memahami bahasa ini berarti sengaja mempertahankan tembok pembatas.
Bukan berarti kita harus menjadi ahli nahwu-sharaf, ilmu balagah Quran, namun minimal berusaha memahami arti per kata melalui terjemahan, atau belajar bahasa Arab dasar Qurani.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)
Ayat ini adalah dorongan kuat untuk mempelajari bahasa Al-Qur’an. Mencari Inspirasi dan pedoman dari wahyu-Nya.
Membaca tanpa memahami ibarat memegang peta berharga dalam bahasa asing; kita tahu itu penting, tetapi tidak tahu jalan yang ditunjukkannya.
Hati adalah wadah. Jika ia dipenuhi kesombongan, dosa yang berulang, dan kelalaian, maka ia menjadi keras membatu, sakit.
Ayat-ayat Allah akan memantul, tidak mampu meresap. Hanya hati yang lembut dan takwa yang siap menerima petunjuk.
Allah berfirman:
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah mengeras hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22)
Hati yang bersih adalah prasyarat utama untuk faham Al-Qur'an. Ia bagai cermin jernih yang memantulkan cahaya dengan sempurna.
Musibah terbesar dalam interaksi dengan Al-Qur’an adalah hilangnya budaya tadabbur (merenung, memikirkan mendalam). Penghalangnya ada di hati.
Kita sering terfokus pada kuantitas bacaan, bukan kualitas pemahaman. Padahal, Allah secara khusus memerintahkan kita untuk mentadabburi Al-Qur’an.
Allah berfirman:
“Maka tidakkah mereka menghayati (mentadabburi) Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisa’: 82)
Setiap ayat adalah ‘alam semesta’ makna. Inspirasi Qurani akan terpancar ketika kita berhenti sejenak, merenungkan setiap kalimat, dan menghubungkannya dengan realita hidup kita.
Kesibukan dunia—bekerja, berbisnis, bahkan dalam aktivitas sosial—bisa menjadi tirai tebal yang memisahkan kita dari Al-Qur’an. Penutup dari memahami cahaya Al-Quran masuk dalam hati.
Waktu 24 jam terasa kurang, dan Al-Qur’an selalu mendapat jatah sisa yang kelelahan. Lingkungan yang tidak mendukung semakin memperparah keadaan.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah...” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Ini adalah peringatan keras. Kesibukan duniawi yang tidak terkendali adalah penghalang fisik terbesar untuk konsisten mendekat dan memahami Al-Qur’an.
Setelah mengenali penghalangnya, kita harus segera bertindak dengan amal nyata:
1. Murnikan Niat: Awali setiap interaksi dengan Al-Qur’an dengan memperbaharui niat, memohon kepada Allah agar diberi pemahaman.
2. Komitmen Belajar: Mulai dengan rutin membaca terjemahan per ayat, atau bergabung dalam majelis tafsir. Gunakan mushaf yang dilengkapi terjemahan dan catatan pinggir.
3. Bersihkan Hati: Perbanyak istighfar, tinggalkan maksiat, dan rendahkan hati di hadapan ilmu Allah. Hati yang bersih adalah magnet hidayah.
4. Buat Program Tadabbur: Sisihkan waktu khusus, misalnya 15-30 menit sehari, untuk membaca perlahan sambil merenungkan makna ayat. Tanyakan: “Apa pesan Allah untuk saya hari ini?”
5. Atur Prioritas dan Ciptakan Lingkungan: Jadikan Al-Qur’an sebagai kebutuhan primer, bukan pelengkap. Carilah komunitas atau teman yang bisa saling mengingatkan untuk mempelajarinya.
Al-Quran bukanlah kitab mati. Bukan makhluk. Ia adalah Kalamullah yang hidup, selalu relevan, dan siap memberikan Inspirasi Qurani tak terbatas kepada siapa pun yang mendekatinya dengan hati terbuka dan persiapan yang benar.
Marilah kita jadikan upaya memahami Al-Qur’an bukan sebagai beban, tetapi sebagai perjalanan spiritual paling indah dalam hidup.
Allah berfirman:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman...” (QS. Al-Isra’: 82)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan pintu-pintu pemahaman, kemudahan, dan keridhaan-Nya untuk kita.
Memberi kita taufik untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang dekat dengan Al-Qur’an, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkannya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Wallahu'alam

