Ary Indriyani
Penulis adalah Direktur Sales Marketing PT Cordoba Internasional Indonesia
.png)
Quran Cordoba - Dari begitu banyak doa yang sering kita ucapkan, ada doa yang diucapkan berulang ulang oleh nabi kita, Rasulullah Muhammad saw. Doa yang dibaca saat thawaf di rukun yamani, dan doa yang Allah anjurkan untuk dibaca setelah ibadah haji dan hari-hari tasyrik.
Istilah sapu jagat disematkan pada doa ini karena kedalaman makna dan totalitas permohonan seorang hamba terhadap Rabb-nya.
Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar
“Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.” (QS Al Baqarah ayat 201).
Meminta kebaikan di dunia disampaikan lebih awal dari meminta kebaikan di akhirat. Hal ini menunjukkan bahwa dunia adalah kendaraan kita menuju akhirat dan terhindar dari api neraka.
Doa tersebut bukan hanya bicara spiritualitas, tetapi juga mentalitas seorang mukmin untuk menjadikan dunia sebagai tempat menebar kesejahteraan. Salah satu cara mensyukuri kehidupan dunia adalah dengan melakukan shalat dan berkurban sebagaimana yang Allah sebutkan dalam Al-Quran surat Al-Kautsar ayat 1 dan 2.
Bersyukur bukan hanya kata kata, tetapi perlu tindakan nyata. Berkurban adalah salah satu diantaranya. Jika kita memohon kebaikan di dunia, maka berkurban adalah salah satu cara untuk mendapatkannya.
QURBAN BUKAN SEKEDAR RITUAL
Dari zaman Nabi Adam álaihissalam, Nabi Ibrahim álaihissalam, dan Rasulullah Muhammad shalallahuálaihi wasallam, perintah kurban selalu membawa pesan bukan hanya tentang keshalihan pribadi, tetapi juga keshalihan sosial.
Dalam dunia modern, kurban bukan hanya berpengaruh terhadap dirinya, tetapi berpengaruh pada konsep ekonomi secara umum. Sebuah hadits yang disampaikan oleh Rasulullah shalallahuálaihi wa sallam bahwa hari tasrik adalah hari makan,minum, dan berdzikir memberi makna bahwa setiap mukmin memiliki kewajiban untuk memastikan saudaranya mendapatkan makanan dan minuman.
Hari penyembelihan hewan kurban adalah hari yang ditunggu oleh masyarakat miskin atau para mustahik karena daging untuk kalangan fakir miskin adalah kemewahan yang tidak mereka temukan di hari hari biasa.
Dalam riwayat lain, Rasulullah shalallahuálaihi wa sallam bahkan menyampaikan, “Dulu aku melarang kalian dari menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari agar orang yang memiliki kecukupan memberi keluasan kepada orang yang tidak memiliki kecukupan. Namun sekarang, makanlah semau kalian, berilah makan dan simpanlah.” (HR Tirmidzi).
Hadits tersebut sangat futuristik,mempertimbangkan berbagai kondisi umat Islam sesuai perkembangan zamannya. Jika daging kurban harus habis dalam hari tasyrik, maka besar kemungkinan distribusi tidak akan berjalan secara merata.
Maka ummat Islam memiliki kewajiban untuk memikirkan kemerataan harta berupa daging tersebut kepada siapapaun di seluruh dunia. Dahulu di zaman Nabi, masyarakat mengeringkan daging untuk mengawetkannya agar dapat dikonsumsi lebih lama.
MULTIPLIER EFFECT IBADAH KURBAN
Di Indonesia dengan jumlah penduduk mayoritas beragama Islam, kebutuhan terhadap hewan kurban terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data dari Baznas, jika tahun 2025 dibutuhkan sekitar 2,2 juta hewan kurban, makan tahun 2026 diperkirakan mengalami peningkatan menjadi 2,4 juta ekor hewan kurban baik berupa sapi, kerbau maupun kambing dan domba.
Jumlah hewan tersebut dihasilkan dari berapa peternak di seluruh Indonesia? Berapa orang yang terlibat untuk melakukan pengurusan hewan tersebut? Berapa dokter hewan dan tenaga kesehatan yang memastikan semua hewan dalam keadaan sehat dan layak untuk dijadikan kurban?
Jika mengingat hadits Rasulullah shalallahuálaihi wasallam di atas, maka ibadah qurban bukan hanya ritual penyembelihan, tetapi bagaimana mengoptimalkannya.
Allah meminta kita memberikan kurban berupa hewan ternak terbaik. Hewan ternak terbaik hanya akan didapatkan jika peternak memastikan pakan yang berkualitas, diurus dan dikelola dengan baik bahkan memastikan transportasi yang layak saat hewan dibawa dari peternakan yang umumnya di pedesaan menuju perkotaan tempat hewan akan disembelih.
Kurban menggerakkan ekonomi secara simultan dengan mekanisme demand dan supply yang berjalan secara harmonis seiring meningkatnya kesadaran beribadah umat Islam. Bukan hanya berbicara ketersediaan hewan kurban dengan kualitas terbaik, Rasulullah bahkan meminta umatnya memikirkan mekanisme manajemen logistik dengan kata ‘simpanlah’.
Hadits ini mengembangkan pengolahan hewan kurban tidak hanya berupa daging segar, tetapi juga berupa kornet agar daging yang berlimpah dapat diawetkan dan memungkinkan untuk didistribusikan dalam jangkauan lebih luas.
Perintah memberi makan juga tidak terbatas pada mereka yang ada di sekitar kita, tetapi teknologi memungkinkan seorang ukmin berkurban di lintas negara. Fenomena kurban digital melalui lembaga yang terpercaya menjadikan daging kurban kita dapat dibagikan kepada orang orang yang memerlukan di Palestina, Afrika, dan berbagai belahan bumi lainnya.
Disinilah konsep multiplier effect ekonomi kurban terus bergulir. Dari satu hewan yang dikurbankan, ada puluhan atau ratusan orang yang juga merasakan manfaatnya baik sebelum, selama proses, maupun setelah hewan tersebut dikurbankan.
DARI KESYUKURAN MENUJU KEMAKMURAN
Pertemuan antara kebaikan dunia dan kebaikan akhirat yang selalu diucapkan dalam doa seorang mukmin menggambarkan konsep ekonomi yang begitu luas. Berqurban bagi seorang muslim bukan hanya wujud kesyukuran dengan mengharapkan pahala yang berlimpah dari Allah yang Esa, melainkan juga menebarkan manfaat dan menggerakkan ekonomi untuk meningkatkan kemakmuran.
Apa yang disampaikan Rasulullah shalallahuálaihi wa sallam bahwa hari-hari Idul Adha adalah hari perayaan makan, minum dan banyak berdzikir menjadikan hari-hari Idul Adha bukanlah hari yang hanya kembali kepada fitrah, tetapi hari merelakan sebagian harta dimanfaatkan untuk mendapatkan kenikmatan akhirat.
“Makanlah, simpanlah, dan sedekahkanlah” membawa makna Idul Adha atau berkurban merupakan ibadah pribadi yang membawa kebaikan sosial.
Dengan demikian, doa agar dijauhkan dari siksa api neraka bukanlah slogan karena ia sesungguhnya hasil dari kebaikan (hasanah) kehidupan dunia, dan kebaikan (hasanah) kehidupan akhirat yang kita dambakan.
.png)
