Heri Mahbub
Dakwah inspiratif berbasis Al-Quran menghadirkan metode komunikasi melalui enam konsep qaulan. Artikel ini mengulas strategi dakwah Qurani yang santun, solutif, dan relevan untuk menjawab tantangan globalisasi serta membangun peradaban Islam berakhlak mulia.

Quran Cordoba - Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, dakwah Islam perlu tidak hanya benar secara substansi, tetapi juga tepat dalam metode komunikasi. Globalisasi—atau global village sebagaimana istilah era digital—telah mengubah cara manusia berpikir, berkomunikasi, dan menerima pesan.
Dalam kondisi ini, Al-Qur’an sejak 14 abad lalu telah memberikan panduan yang sangat relevan tentang esensi waktu, komunikasi, beribadah dan persiapan masa depan.
Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak kehilangan orientasi hidup:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)
Ibnu ‘Abbas, Turjuman al-Qur’an, menafsirkan ayat ini sebagai dorongan agar manusia mengisi masa depan dengan kebaikan. Sebab, siapa yang menanam kebaikan akan menuai kebaikan, dan siapa yang menanam keburukan akan memetik akibat yang sama.
Perubahan konsep, nilai, dan konteks kehidupan masyarakat tidak dapat dihindari. Pergeseran budaya, karakter sosial, hingga pola komunikasi menjadi salah satu penyebab kemunduran umat, baik secara lahiriah maupun batiniah.
Oleh karena itu, dakwah tidak cukup hanya bersifat normatif dan reaktif, tetapi harus inspiratif, solutif, dan inovatif.
Dalam konteks inilah, metode komunikasi berbasis Al-Qur’an menjadi fondasi utama dakwah yang relevan lintas generasi dan lintas budaya. Tujuannya agar penyampaian kita ikhlas karena Allah, orientasinya mengajak dan mendekatkan umat kepada Allah.
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)
Landasannya sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Quran, yaitu;
Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, (QS. Al-Baqarah, 2: 83)
Al-Qur’an memberikan pedoman komunikasi yang sangat lengkap dan aplikatif. Setidaknya terdapat enam metode qaulan penyampaian yang menjadi prinsip utama dakwah inspiratif.
1. Qaulan Ma’rûfâ – Perkataan yang Baik dan Pantas
Allah SWT berfirman:
“Ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 83)
Qaulan ma’rûfâ adalah komunikasi yang sesuai norma, etika, dan menghormati lawan bicara. Dalam dakwah, metode ini menekankan pentingnya tutur kata yang tidak melukai, tidak merendahkan, dan tidak memancing resistensi.
2. Qaulan Sadîdâ – Perkataan yang Jujur dan Tepat Sasaran
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 70)
Dakwah harus disampaikan dengan kejujuran, kejelasan, dan ketegasan. Qaulan sadîdâ menuntut dai untuk menyampaikan kebenaran tanpa manipulasi, sehingga pesan dakwah dapat diterima secara efektif dan dipercaya.
3. Qaulan Maysûrâ – Perkataan yang Mudah dan Empatik
Allah SWT berfirman:
“Maka ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mudah.” (QS. Al-Isra [17]: 28)
Metode ini menekankan kesederhanaan bahasa, kelembutan, dan empati. Dakwah yang terlalu rumit, kaku, dan penuh istilah teknis seringkali justru menjauhkan umat dari pesan Islam.
4. Qaulan Karîmâ – Perkataan yang Mulia dan Penuh Penghormatan
Allah SWT berfirman:
“Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra [17]: 23)
Qaulan karîmâ adalah komunikasi yang menjunjung tinggi adab, terutama kepada orang tua, tokoh masyarakat, dan mereka yang berbeda pandangan. Dakwah dengan penghormatan akan membuka pintu dialog dan saling pengertian.
5. Qaulan Balîghâ – Perkataan yang Mengena dan Membekas
Allah SWT berfirman:
“Maka katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwa mereka.” (QS. An-Nisa [4]: 63)
Qaulan balîghâ adalah kata-kata yang singkat, padat, penuh makna, dan menyentuh hati. Inilah seni komunikasi dakwah yang mampu menggugah kesadaran dan mendorong perubahan.
6. Qaulan Layyinâ – Perkataan yang Lembut dan Menenangkan
Allah SWT berfirman kepada Musa dan Harun:
“Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS. Thaha [20]: 44)
Bahkan kepada Fir’aun, simbol kezaliman, Allah memerintahkan kelembutan. Ini menunjukkan bahwa kelembutan adalah kekuatan dakwah, bukan kelemahan.
Imam Asy-Syaukani saat menafsirkan kata al-bayân (QS. Ar-Rahman [55]: 4) pandai berbicara,maksudnya menegaskan bahwa tujuan komunikasi Qurani adalah tafâhum—saling memahami.
“mengajarnya pandai berbicara.” (QS. Ar-Rahman, 55: 4
Lebih dari sekadar kata-kata, akhlak adalah media dakwah paling efektif lintas generasi dan lintas keyakinan. Di luar komunitas Muslim, sering kali bukan dalil yang pertama dinilai, melainkan sikap, empati, dan keteladanan.
Inilah yang disebut dakwah keteladanan—menampilkan keindahan Islam melalui perilaku.
Seiring perubahan zaman, dakwah perlu diperkuat dengan pendekatan tambahan:
Warisan para ulama terdahulu membuktikan bahwa tulisan mampu menembus ruang dan waktu. Di era digital, tulisan ilmiah dan konten viral menjadi sarana strategis dakwah modern.
Kisah kejayaan Islam, ulama, dan ilmuwan Muslim menjadi inspirasi abadi. Sebagaimana adagium:
“Wahyu telah berakhir, tetapi realitas tidak pernah berakhir.”
Dakwah solutif menawarkan jalan tengah yang berbasis syariat, bukan sekadar hitam-putih. Inilah dakwah praktis yang menjawab problem umat dengan pendekatan kontemporer dan berkeadaban.
Penutup: Dakwah untuk Membangun Khair Ummah
Dakwah inspiratif dan inovatif bertujuan melahirkan kesalehan sosial (mushlih)—umat yang saling peduli, menguatkan, dan bergerak bersama.
Dengan metode komunikasi Qurani, karakter yang kuat maka dakwah menjadi sarana membangun peradaban yang rahmatan lil ‘alamin. InsyaAllah
Baca Artikel Lainnya: Kumpulan Artikel Quran Cordoba

.jpg)