Heri Mahbub
Jangan lewatkan puncak Ramadan! Dahsyatnya keutamaan 10 hari terakhir, amalan utama seperti itikaf, salat malam, tilawah Quran dan memburu Lailatul Qadar. Optimalkan ibadah Ramadan Anda untuk hasil terbaik.
.png)
Detik-detik akhir Ramadan ibarat garis finish dalam sebuah lari maraton spiritual. Di sinilah puncak dari perjalanan satu bulan penuh ampunan.
Keberhasilan sejati ibadah Ramadan justru ditentukan di sepuluh hari terakhirnya.
Saat banyak orang mulai disibukkan dengan persiapan lebaran, mudik, dan baju baru, justru inilah momen bagi kita untuk mengencangkan ikat pinggang, menyempurnakan lari, dan menyambut garis akhir dengan sprint terakhir yang penuh kemenangan.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan terbaik, tidak pernah lengah di akhir-akhir ini. Justru, beliau mempersiapkan diri dengan kesungguhan luar biasa.
Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan, “Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh (dalam beribadah) pada sepuluh hari terakhir Ramadan, tidak seperti pada hari-hari lainnya.” (HR. Muslim).
Bahkan, beliau mengajak seluruh keluarganya untuk bangkit bersama.
“Rasulullah ketika masuk 10 akhir, menghidupkan malam-malamnya (dengan shalat, dzikir), membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sarungnya (menjauhi hubungan suami-istri untuk fokus ibadah).” (HR. Bukhari & Muslim).
Inilah pesannya: Ramadan tidak berakhir dengan lelah, tetapi berpuncak pada kemuliaan. Imam Nawawi rahimahullah menegaskan, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadan dan menghidupkan malam-malamnya.”
Agar Ramadan kita berbuah pahala maksimal dan membekas dalam hati, mari fokuskan energi pada amalan-amalan inti di sepuluh hari terakhir:
“Menghidupkan malam” adalah esensi dari 10 hari terakhir. Rasulullah ﷺ mengubah pola ibadahnya. Aisyah r.a. menjelaskan,
“Pada 20 hari pertama, Nabi ﷺ biasa shalat, puasa, dan tidur. Namun ketika memasuki sepuluh hari terakhir, beliau bersungguh-sungguh dan ‘mengencangkan sarungnya’.” (HR. Ahmad).
“Mengencangkan sarung” adalah kiasan untuk mengurangi tidur dan bersemangat menjalankan qiyamul lail (shalat malam). Shalat Tahajud, witir, dan dzikir di sepertiga malam terakhir menjadi senjata ampuh meraih maghfirah (ampunan) dan kedekatan dengan Allah.
Itikaf adalah mahkota ibadah di akhir Ramadan. Inilah sunnah yang sangat dijaga Rasulullah ﷺ hingga akhir hayatnya. Aisyah r.a. berkata,
“Nabi ﷺ selalu beritikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan sampai Allah mewafatkan beliau.” (HR. Bukhari & Muslim).
Itikaf bukan sekadar duduk di masjid. Ia adalah proses uzlah (menyendiri) secara fisik dan jiwa dari dunia, untuk sepenuhnya berkonsentrasi pada Allah.
Dengan berdiam di masjid, kita melatih hati untuk hanya bergantung pada-Nya, memperbanyak tilawah Qur’an, shalat sunnah, dzikir, dan muhasabah diri. Itikaf adalah sekolah intensif untuk melahirkan pribadi yang lebih takwa pasca-Ramadan.
Inilah hadiah terbesar yang hanya ditemukan di sepuluh malam terakhir. Allah berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3).
Rasulullah ﷺ dengan jelas memberi petunjuk: “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadan.” (HR. Bukhari). Malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 adalah malam-malam yang sangat diharapkan.
Apa yang harus kita lakukan jika mendapatkannya? Doa adalah senjatanya. Aisyah r.a. bertanya pada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, jika aku tahu suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab,
“Ucapkanlah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni
(Ya Allah, Engkau Maha Pemberi Maaf dan menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi).
Doa singkat ini adalah inti dari permohonan: pengampunan dosa dan penerimaan amal.
Baca Juga: Panduan Itikaf: Pengertian, Waktu, Tempat, Amalan, dan Syarat bagi Perempuan
Agar tidak kewalahan, kita perlu strategi:
• Rencanakan Itikaf: Jika tidak bisa penuh 10 hari, luangkan minimal 1-3 hari terakhir. Siapkan keperluan sederhana dan niatkan untuk khalwat dengan Allah.
• Atur Ulang Jadwal: Kurangi aktivitas duniawi yang tidak mendesak. Manfaatkan waktu sebelum berbuka dan setelah sahur untuk tilawah dan dzikir ekstra.
• Bangunkan Keluarga: Teladani Rasulullah ﷺ dengan membangunkan keluarga untuk shalat malam berjamaah atau tilawah bersama. Suasana ini akan menguatkan semangat seluruh anggota rumah.
• Perbanyak Doa Sapu Jagat: Di samping doa khusus Lailatul Qadar, perbanyaklah doa-doa untuk kebaikan dunia akhirat, keluarga, dan umat.
Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah kesempatan emas yang tidak akan terulang hingga setahun ke depan. Ini adalah waktu untuk memperbaiki yang kurang, melipatgandakan yang baik, dan meraih ampunan yang menyeluruh.
Jangan biarkan Ramadan berlalu hanya meninggalkan lapar dan dahaga. Biarkan ia pergi sambil meninggalkan hati yang bersih, dosa yang diampuni, dan tekad yang diperbarui.
Saat orang-orang sibuk memikirkan lebaran, kita sibuk memikirkan pertemuan dengan Allah. Saat mereka sibuk dengan persiapan fisik, kita sibuk dengan persiapan ruhani untuk kehidupan yang lebih baik setelah Ramadan.
Mari jadikan momen ini sebagai puncak penghambaan kita.
Dengan menghidupkan malam, khusyu menyepi dalam itikaf, dan memburu Lailatul Qadar, kita berharap Ramadan kali ini menjadi Ramadan terbaik kita, yang mengantarkan kita pada gelar tertinggi: muttaqin (orang-orang yang bertakwa).
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Semoga kita semua termasuk yang meraihnya.
Baca Juga: Rahasia Sukses Ramadan: Sembuhkan Hati, Kendalikan Emosi, Raih Takwa di Bulan Suci
.png)
.jpeg)