Heri Abu Mahbubi
Makna Idul Adha bukan sekadar menyembelih hewan atau ritual Zulhijjah. Bagaimana ‘menyembelih’ Ego di Era Modern. Pelajari Kisah Ibrahim dan Ismail yang Relevan untuk kurban Kita Hari Ini.
.jpeg)
Quran Cordoba - Setiap tahun, tanggal 10 Zulhijjah kita melakukannya. Mencari hewan terbaik, mengurus kepanitiaan, setelah berkumpul di lapangan untuk salat Ied. Lalu selesai. Sampai Zulhijjah tahun berikutnya.
Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita benar-benar berkurban — atau sekadar berkorban uang untuk memenuhi ritual tahunan?
Pertanyaan itu mungkin terasa tidak nyaman. Dan justru di sanalah letak pentingnya.
Memasuki bulan Zulhijjah, musim haji akbar ini, ada satu tema besar yang sering luput dari perhatian kita di tengah kesibukan teknis pelaksanaan kurban: bahwa makna kurban dalam Islam lebih dari sekadar darah hewan yang dialirkan.
Secara harfiah, qurban berasal dari kata Arab qaruba — yang artinya mendekat. Kurban adalah ibadah pendekatan diri kepada Allah, bukan pertunjukan hewan ternak atau kemampuan menyembelihnya.
Allah sendiri telah menegaskan hal ini dengan sangat gamblang dalam Al-Quran:
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya." — (Q.S. Al-Hajj: 37)
Ayat ini seharusnya mengguncang cara kita memandang kurban. Allah tidak butuh dagingnya. Allah tidak terkesan dengan besarnya hewan yang kita sembelih.
Allah lihat seberapa jauh pengorbanannya, takwanya dan mampu menyembelih sesuatu yang jauh lebih sulit dari seekor sapi — yaitu ego kita sendiri.
Di sinilah hakikat terdalam kurban sesungguhnya berada.
Kita hidup di zaman yang secara unik subur untuk menumbuhkan ego. Media sosial memberi kita panggung untuk memamerkan pencapaian. Personal branding terkadang memaksakan. Karier memberi alasan untuk merasa lebih dari orang lain.
Inilah yang disebut 'berhala ego' — rasa aku yang berlebihan. Aku yang paling sukses. Ini hartaku. Ini pencapaian duniaku. Ini brandku yang paling hebat dan unggul.
Namun Allah telah menetapkan sebuah kebenaran yang tidak bisa digugat:
"Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan." — (Q.S. Ali Imran: 109)
Semua yang kita sebut "milikku" hanyalah titipan. Semua yang kita banggakan hanyalah pinjaman.
Egoisme, pada dasarnya, adalah wajah lain dari kesombongan. Dan kita tahu ke mana kesombongan itu berujung — karena kita mengenal kisah makhluk yang paling kongkret.
Iblis, yang dikeluarkan dari surga bukan karena kekurangannya dalam beribadah, melainkan karena satu hal ini:
"Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir." — (Q.S. Al-Baqarah: 34)
Egoisme bukan sekadar masalah akhlak. Ia adalah akar dari keingkaran hati.
Untuk memahami hikmah berkurban secara utuh, kita perlu kembali ke sumbernya — Kisah yang sudah ribuan tahun menjadi teladan, namun tidak pernah kehilangan kekuatannya.
Bayangkan: seorang lelaki tua yang telah menunggu seorang anak selama puluhan tahun. Rambutnya memutih sebelum doanya dijawab. Mengembara ke seluruh negeri. Ketika Ismail lahir, Ibrahim bukan sekadar menjadi ayah — ia menjadi seseorang yang memiliki alasan untuk berharap tentang masa depan.
Namun ujian tidak berhenti di sana. Ibrahim justru diperintahkan untuk mengasingkan Ismail dan ibundanya, Hajar, ke lembah yang tandus dan tidak berpenghuni — yang kelak menjadi Makkah.
Secara manusiawi, itu sudah cukup menyayat hati. Tapi Ibrahim menaati perintah itu, karena ia tahu: ketaatan kepada Allah tidak menunggu kondisi yang nyaman.
Bertahun-tahun berlalu. Ismail tumbuh menjadi remaja — menjadi harapan, kebanggaan, dan tumpuan. Dan tepat di titik itulah Allah menguji Ibrahim dengan perintah yang paling berat dalam sejarah kenabian: perintah 'menyembelih' putranya sendiri.
Baca Juga: Amalan Bulan Dzulhijjah dan Larangan Potong Rambut juga Kuku
Ibrahim akan menyembelih Ismail karena ia tidak mencintai egonya. Ia menyembelih sesuatu yang jauh lebih berbahaya: rasa memiliki yang berlebihan atas Ismail, yang berpotensi menjadi "berhala kecil" di hatinya — sesuatu yang bisa menyaingi cintanya kepada Allah.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah mengingatkan bahwa dalam hati manusia terdapat semacam "kekumuhan" yang tidak bisa dibersihkan kecuali dengan menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah. Kurban adalah salah satu jalan pembersihan itu.
Ketika Nabi Ibrahim AS. membuktikan bahwa Allah berada di atas segalanya — termasuk di atas cintanya yang paling dalam — Allah mengganti Ismail dengan seekor domba yang besar. Bukan karena Allah membutuhkan pengorbanan itu, melainkan karena hati Ibrahim sudah bersih dari keterikatan duniawi yang bisa menghalangi ketaatannya.
Lalu pertanyaannya sekarang: siapa "Ismail" kita hari ini?
Mungkin "Ismail" kita adalah karier jabatan yang sedang menanjak — yang membuat kita terlalu sibuk untuk shalat tepat waktu, terlalu lelah untuk mengaji, terlalu "penting" untuk hadir di majelis ilmu.
Mungkin "Ismail" kita adalah harta yang sedang kita kumpulkan — yang terasa terlalu sayang untuk disisihkan, padahal untuk pengeluaran gaya hidup, kita tidak perlu berpikir dua kali.
Mungkin "Ismail" kita adalah waktu luang — yang habis untuk hiburan, foya-foya, tapi terasa berat saat harus dialokasikan untuk ibadah.
Mencintai ‘Ismail’ tentu boleh bahkan sangat dianjurkan, yang menjadi larangan adalah merasa memiliki penuh dan ego diri berlebihan.
Kurban Idul Adha mengundang kita untuk jujur menjawab pertanyaan itu.
Jika kita masih menganggap kurban sebagai opsi yang bisa ditunda dengan alasan "masih banyak keperluan lain" — ada sebuah hadis yang perlu kita renungkan dengan serius:
"Barangsiapa memiliki kelapangan rezeki tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami." — (H.R. Ahmad & Ibnu Majah)
Ini bukan sekadar anjuran. Ini adalah teguran yang sangat tegas dari Rasulullah ﷺ — khusus kepada mereka yang mampu secara kelapangan materi namun memilih untuk tidak berkurban.
Kita yang tinggal di kota, yang setiap bulan mampu menyisihkan uang untuk berlangganan layanan digital, kouta data, makan di restoran mahal, membeli gadget terbaru — apakah benar-benar tidak mampu berkurban? Atau sebenarnya kita hanya tidak memprioritaskannya?
Ada perbedaan besar antara "tidak mampu" dan "tidak mau." Dan hadis ini berbicara kepada yang kedua.
Baca Juga: 8 Keutamaan Berkurban: Berbuat Baik dalam Segala Hal
Di tengah kehidupan perkotaan yang serba cepat dan terukur, Idul Adha mengajak kita untuk berhenti sejenak dan memeriksa diri.
Ada tiga pertanyaan yang layak kita bawa maknanya dari perayaan tahun ini:
1. Siapa yang paling mengisi hati kita — Allah, atau egoisme diri? Ketakwaan bukan sekadar gugurnya kewajiban ritual. Ia adalah ruh yang menghidupkan amal — sebuah bentuk kepatuhan total yang menuntut kita untuk terus-menerus menyembelih egoisme demi perintah Allah.
2. Apakah hewan kurban kita adalah simbol dari kesediaan nyata untuk berubah? Menyembelih hewan kurban seharusnya menjadi simbol dari kesediaan kita membuang sifat-sifat yang menghalangi kita dari Allah: sifat kikir, rakus, dan merasa cukup.
Jika setelah Idul Adha kita kembali persis sama seperti sebelumnya, mungkin yang kita lakukan baru ritualnya — belum hakikatnya.
3. Apakah standar ketaatan Ibrahim yang kita tuju? Ibrahim merelakan yang paling ia cintai demi membuktikan bahwa cintanya kepada Allah melampaui segalanya.
Merelakan sebagian kecil dari apa yang kita miliki. Jika itu pun masih terasa berat, ada baiknya kita bertanya: seberapa besar sebenarnya cinta kita kepada Allah dibanding cinta kepada dunia?
Setiap tahun, ratusan ribu hewan kurban disembelih di seluruh dunia pada hari raya Idul Adha. Tapi berapa banyak ego nafsu yang ikut tersembelih bersamanya?
Jika Nabi Ibrahim — dengan segala cintanya yang tak terhingga kepada Ismail — mampu merelakan putra tercintanya untuk membuktikan ketaatannya kepada Allah, maka bersediakah kita merelakan sedikit dari harta, waktu, ego dan kenyamanan kita untuk hal yang sama?
Semoga Allah menanamkan rasa syukur dalam hati. Semoga Ia menganugerahkan ketundukan yang tulus, dan kesediaan untuk berkurban bukan karena terpaksa — melainkan karena cinta.
Semoga egoisme kita tidak pernah lebih besar dari kecintaan kita kepada-Nya. Aamiin
Baca Juga: 4 Keistimewaan Musim Haji Sejak Bulan Zulkaidah
.jpeg)
.png)