Heri Mahbub
Mari persiapkan diri, sukses Ramadan dengan tekad baru: menjaga emosi, menjadi hamba yang tidak mudah marah, mampu menyalurkan setiap energi emosional ke dalam ketaatan. Mulai dari sembuhkan hati, raih Taqwa di bulan suci. Aamiin

Quran Cordoba - Menjelang bulan suci Ramadan, ada sebuah persiapan yang seringkali terlupakan, namun dampaknya teramat luas bagi keutuhan ibadah kita: persiapan mental dan emosional.
Kita mungkin telah menyusun menu sahur dan buka puasa, merencanakan tilawah, atau target shalat tarawih. Namun, setujukah Anda bahwa salah satu hal terberat yang harus ‘dijinakkan’ adalah emosi diri sendiri?
Menahan lapar dan dahaga bisa jadi latihan fisik yang terukur. Namun, menahan reaksi spontan saat kesal, kecewa, atau dipicu hal sepele, itulah medan jihad yang sesungguhnya.
Betapa sayangnya jika pahala puasa yang kita kumpulkan siang dan malam ‘bocor’ begitu saja hanya karena luapan emosi yang tak terjaga.
Rasulullah ﷺ mengingatkan,
“Puasa itu adalah perisai. Maka, apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah ia berkata keji dan jangan berbuat bodoh, Apabila terdapat seseorang memusuhinya atau mencelanya maka hendaknya dia mengatakan, “Aku sedang berpuasa ” (HR. Muslim)
Artikel ini membimbing Anda dalam sukses Ramadan yang holistik, dengan fokus pada seni ‘jangan marah’ dan menjaga emosi, diilhami langsung oleh tuntunan Nabi dan didukung ilmu kontemporer.
Ramadan bukan sekadar perubahan jam makan; ia adalah madrasah ruhani yang intensif. Di dalamnya, kita berlatih mengendalikan hawa nafsu, dari yang paling dasar (makan, minum, hubungan suami-istri) hingga yang paling kompleks: nafsu amarah dan ego.
Emosi yang tak terkendali dapat merusak suasana ibadah, mengotori hati, dan meretakkan hubungan sosial (silaturahmi) yang justru seharusnya diperkuat di bulan mulia ini.
Oleh karena itu, mempersiapkan diri untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, tenang, dan pengendali diri adalah investasi tak ternilai bagi kesempurnaan Ramadan tahun ini.
Saat emosi mulai memanas, layaknya api yang menyala, Rasulullah ﷺ memberikan sebuah solusi praktis yang sarat dengan hikmah spiritual dan psikologis.
“Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan diciptakan dari api, sementara api akan mati dengan air, maka jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah berwudu.” (HR. Abu Dawud).
Hadis ini bukan sekadar kiasan puitis. Ia adalah prosedur penting dari Nabi untuk meredam ledakan emosi. Mari kita telaah mengapa wudu begitu efektif:
Saat kemarahan mulai berkecamuk, pikiran rasional seringkali ‘terputus’. Dengan memerintahkan diri untuk bangkit dan mengambil air wudu, kita secara fisik mengintervensi siklus kemarahan yang sedang naik.
Gerakan meninggalkan tempat, menuju sumber air, dan membasuh anggota tubuh merupakan rangkaian tindakan yang mengalihkan fokus dari sumber amarah.
Secara ilmiah, membasuh area-area sensitif seperti wajah, tangan, hingga telinga dengan air (terutama yang sejuk) merangsang reseptor saraf dan membantu menurunkan suhu tubuh inti yang mungkin meningkat saat stres.
Aktivitas ini dapat memicu respons relaksasi, menurunkan kadar hormon kortisol (hormon stres), dan meredakan sistem saraf simpatik (fight or flight) yang aktif saat marah. Wudu, dengan demikian, berfungsi sebagai ‘reset button’ yang menenangkan sistem saraf secara instan.
Wudu bukan hanya penyegar fisik. Ia adalah ritual pensucian yang mengingatkan kita pada tujuan hakiki: kesucian dalam beribadah kepada Allah. Saat air membasuh kulit, kita diingatkan untuk juga membersihkan hati dari kotoran amarah dan dengki.
Niat wudu dan doa-doa yang dibaca mengalihkan kesadaran dari ‘aku yang tersakiti’ menuju ‘aku yang hamba Allah’. Pergeseran kesadaran inilah yang paling efektif meredam ego.
Selain berwudu, Rasulullah ﷺ mengajarkan seperangkat strategi lengkap untuk menangani amarah. Kiat-kiat ini adalah bekal berharga dalam persiapan Ramadan kita.
“Apabila salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika kemarahannya belum reda, maka hendaklah ia berbaring.” (HR. Ahmad).
Ini adalah tips psikologis yang brilian. Marah sering diasosiasikan dengan energi meledak-ledak dan posisi ‘siap menyerang’ (berdiri).
Dengan mengubah postur menjadi lebih rendah (duduk, lalu berbaring), kita secara simbolis dan fisiologis ‘merendahkan’ tensi kemarahan. Posisi tubuh yang lebih rileks mengirim sinyal ke otak untuk ikut meredakan respons stres.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad).
Dalam keadaan marah, kata-kata bagai pisau yang melukai dan merusak. Menahan lidah adalah bentuk perlindungan diri dan orang lain.
Dalam persiapan Ramadan, latihlah untuk memberi ‘jeda’ beberapa detik sebelum merespons sesuatu yang memicu. Tarik napas dalam, ingatkan diri: “Aku sedang berpuasa, kata-kataku harus terjaga.”
“Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah)’, maka redamlah marahnya.” (Hadits Shahih)
Membaca ta’awwudz: A’udzu billahi minasy syaithanir rajim. Amarah adalah bisikan dan kesempatan emas bagi setan.
Dengan memohon perlindungan kepada Allah, kita mengakui bahwa sumber kekacauan ini adalah musuh yang nyata dan meminta kekuatan dari Zat yang Maha Mengendalikan segala sesuatu.
Penelitian modern juga menunjukkan bahwa marah, sebagai emosi dasar (basic emotion) yang penuh energi, dapat dialihkan untuk mendorong pertumbuhan pribadi jika dikelola dengan benar (R. Williams, 2017).
5. Mengingat Pahala dan Akibatnya.
Ingatlah janji Rasulullah: “Bukanlah orang yang kuat itu yang (bisa) mengalahkan lawannya, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari & Muslim).
Bayangkan betapa besarnya pahala menahan amarah di bulan Ramadan. Sebaliknya, ingat pula betapa merusaknya amarah bagi hati, hubungan, dan pahala puasa kita.
Baca Juga: Tarhib Ramadan: Sambut Bulan Suci dengan Sukacita dan Persiapan Maksimal
Istilah ‘ngereog’ atau mudah tersulut emosi adalah tantangan nyata. Berikut adalah tips berbasis sunnah untuk mempersiapkan diri:
· Pra-Marah: Membangun ‘Benteng’ Hati Sebelum Ramadan.
Kekuatan mengelola emosi dibangun dari kebiasaan sehari-hari. Perbanyak membaca Al-Qur’an, dzikir, dan shalat sunnah. Hati yang sering diisi dengan cahaya Ilahi akan lebih kuat menahan gelombang negatif. Latih kesabaran dalam hal-hal kecil sehari-hari.
· Memaknai “Jangan Marah, Kecuali…
”Wasiat Nabi “La Taghdhab” (jangan marah) yang diulang-ulang (HR. Bukhari) adalah prinsip dasar. Namun, ada juga kemarahan yang terpuji, yaitu ketika batasan agama Allah dilanggar.
Dalam persiapan Ramadan, latihlah kepekaan untuk marah karena Allah, bukan karena ego pribadi tertusuk. Bedakan antara sensitivitas agama dan sensitivitas diri.
· Evaluasi Diri (Muhasabah)
Setiap hari, sebelum Ramadan, luangkan waktu sejenak untuk mengevaluasi: Apa pemicu emosiku hari ini? Bagaimana reaksiku? Apa yang bisa diperbaiki? Dengan mengenal pemicu, kita bisa lebih waspada.
· Komunikasi dengan Keluarga. Sampaikan kepada keluarga atau rekan dekat bahwa Anda sedang berusaha untuk lebih menahan emosi, terutama menyambut Ramadan. Minta dukungan dan pengingat dari mereka dengan cara yang baik.
Baca Juga: Bulan Syaban: Menyiram Ramadan dengan Sembuhkan Hati dan Inspirasi Qurani

