Heri Abu Mahbubi
Al-Quran adalah kalamullah, kitab suci ini bukan karangan Nabi Muhammad ﷺ. Simak 7 bukti kuat juga dari ayat Quran, jawaban logis yang membantah tuduhan tersebut, dilengkapi dalil dan penjelasan ulama.
.jpg)
Quran Cordoba - Setiap kitab memiliki pengarangnya. Bagi orang beriman, Al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantara Malaikat Jibril.
Namun, kaum yang tidak percaya melontarkan berbagai tuduhan terhadap kitab suci Al-Quran. Salah satu tuduhan paling populer adalah bahwa Nabi Muhammad ﷺ sendiri yang mengarang Al-Quran. Bagaimana menjawabnya?
Tuduhan ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak masa Nabi Muhammad ﷺ masih hidup, kaum kafir Quraisy telah melontarkan tuduhan serupa. Allah Swt. mengabadikan tuduhan mereka dalam ayat suci Al-Quran:
“Orang-orang kafir berkata, ‘(Al-Quran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Nabi Muhammad) dengan dibantu oleh orang-orang lain.” (QS. Al-Furqan: 4)
Artikel ini membahas tujuh bukti secara logis dari ayat suci Al-Quran yang membantah tuduhan bahwa kitab ini karangan Nabi Muhammad ﷺ.
Salah satu bukti jelas bahwa Al-Quran bukan karangan Nabi Muhammad adalah ayat-ayat yang menegur beliau. Jika Rasulullah adalah pengarang kitab Quran, mustahil ia akan memasukkan teguran yang menyudutkan dirinya sendiri.
Allah Swt. menegur Nabi Muhammad ﷺ dalam Surah At-Tahrim ayat 1:
“Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu? Engkau mencari keridaan istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1)
Teguran lainnya dalam Surah Abasa, di mana Allah menegur Nabi Muhammad ﷺ karena bermuka masam kepada orang buta yang datang menanyakan agama.
“Dia (Nabi Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1-2)
Jika Nabi Muhammad adalah pengarang Al-Quran, mengapa ia memasukkan ayat-ayat yang seolah-olah menjadi “aib” bagi dirinya?
Ini membuktikan bahwa Al-Quran adalah wahyu dari Allah, dan Nabi hanyalah penyampai risalah yang jujur menyampaikan wahyu meskipun berisi teguran untuk dirinya.
Bukti kedua adalah gaya penulisan Al-Quran yang sangat berbeda dengan gaya bahasa hadis dan ucapan Muhammad ﷺ sehari-hari.
Para ulama mengembangkan ilmu Balaghah, Bayan, Ma‘ani, dan Badi‘ untuk membedah keindahan dan kedalaman sastra Al-Quran.
Bahkan para orientalis mengakui bahwa gaya penulisannya sangat tinggi dan berbeda dengan literatur Arab pada zamannya.
Allah Swt. menegaskan bahwa Al-Quran bukanlah perkataan manusia:
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginan (hawa nafsu)-nya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)
Jika Nabi Muhammad adalah pengarang Al-Quran, mengapa gaya bahasanya berbeda dengan ucapan-ucapan beliau sendiri yang tercatat dalam hadis dan sirah?
Perbedaan ini menjadi bukti nyata bahwa kitab Al-Quran berasal dari sumber asli yang berbeda — yaitu Allah Swt.
Bukti ketiga adanya ayat suci Quran yang justru menyalahkan golongan Nabi Muhammad sendiri.
Ketika berita hoax tentang ‘Aisyah Ra. menyebar, Allah Swt. menurunkan ayat yang menegaskan bahwa pelaku fitnah dari golongan kaum Muslimin sendiri:
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu.” (QS. An-Nur: 11)
Jika Nabi Muhammad adalah pengarang kitab Al-Quran, mengapa ia membongkar aib golongannya sendiri? Lalu menyembunyikannya?
Fakta bahwa ayat ini tetap dimasukkan ke dalam Al-Quran menunjukkan bahwa beliau hanyalah penyampai wahyu yang tidak bisa menambah atau mengurangi isi kitab Al-Quran.
Bukti keempat adanya nubuat (ramalan) dalam ayat suci Al-Quran yang terbukti kebenarannya. Salah satunya adalah prediksi tentang kemenangan Romawi (Byzantium) atas Persia setelah kekalahan mereka:
“Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat. Tetapi mereka akan mengalahkan (Persia) setelah kekalahan mereka, dalam beberapa tahun (lagi).” (QS. Ar-Rum: 1-4)
Pada saat ayat ini turun, Romawi berada dalam kondisi terpuruk dan hampir tidak ada yang menyangka mereka akan bangkit. Namun, nubuat ini terbukti benar dalam waktu kurang dari sepuluh tahun.
Jika Nabi Muhammad adalah pengarang Al-Quran, bagaimana ia bisa memprediksi masa depan dengan tepat? Ini adalah bukti bahwa kitab Al-Quran berasal dari Allah Yang Maha Mengetahui.
Bukti kelima adalah tantangan yang Allah berikan dalam Al-Quran kepada siapa pun yang meragukan keasliannya.
Tantangan ini bertingkat, mulai dari membuat satu kitab yang serupa, sepuluh surah, hingga satu surah saja.
Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.’” (QS. Al-Isra’: 88)
Tantangan serupa juga terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 23, QS. Yunus: 38, dan QS. Hud: 13. Jika Nabi Muhammad pengarang kitab Al-Quran, mengapa ia memberikan tantangan seperti ini?
Bukankah itu mempertaruhkan nama baiknya di depan para penyair dan sastrawan Arab yang lebih menguasai bahasa?
Fakta bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menjawab tantangan ini selama lebih dari 14 abad menjadi bukti bahwa kitab Al-Quran benar-benar mukjizat dari Allah.
Bukti keenam adalah sangat sedikitnya penyebutan nama Muhammad dalam kitab Al-Quran. Nama beliau hanya muncul empat kali, jauh lebih sedikit dibandingkan nama Nabi Isa, Nabi Musa, atau Nabi Ibrahim.
Jika Nabi Muhammad adalah pengarang Al-Quran, ia memiliki banyak kesempatan untuk mempromosikan nama dirinya. Namun, kenyataannya tidak demikian.
Ini menunjukkan bahwa Al-Quran bukanlah kitab yang ditulis untuk kepentingan pribadi Nabi, melainkan kitab petunjuk dari Allah Swt. untuk seluruh umat Manusia.
Bukti ketujuh banyaknya ayat suci Al-Quran yang berisi hiburan dan nasihat yang ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Ayat-ayat ini berfungsi untuk memperteguh dan menguatkan keimanan beliau di tengah berbagai ujian dan penolakan.
Allah Swt. berfirman:
“Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah di antara orang-orang yang bersujud.” (QS. Al-Hijr: 97-98)
Aneh jika Nabi menulis ayat-ayat ini untuk dirinya sendiri. Ini menunjukkan bahwa Al-Quran adalah wahyu dari Allah yang diturunkan untuk menghibur dan membimbing Nabi Muhammad ﷺ dalam menjalankan dakwahnya.
Dari tujuh bukti di atas, jelaslah bahwa kitab Al-Quran bukanlah karangan Nabi Muhammad ﷺ. Al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan melalui Malaikat Jibril dan dijaga kemurniannya hingga hari kiamat. Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Kitab Al-Quran juga tidak memiliki kontradiksi di dalamnya:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’: 82)
Semoga artikel ini menjadi jawaban atas berbagai tuduhan yang dilontarkan terhadap kitab Al-Quran dan memperkuat keimanan kita kepada Allah Swt. serta Nabi Muhammad ﷺ.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
.jpg)
.jpeg)