Heri Abu Mahbubi
Apa bahayanya melalaikan Al-Qur'an? Kenali 8 dampak buruk ‘Mahjura’ yaitu mengabaikannya bagi hati, jiwa, keimanan, dan kehidupan seorang muslim berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an.
.png)
Quran Cordoba - Dalam firman Allah SWT Surah Al-Furqan, ada pengaduan Rasulullah SAW mengenai kondisi kaumnya yang mengabaikan Al-Qur'an (mahjura). Melalaikan kalam ilahi bukan sekadar pelanggaran keimanan, melainkan pemicu utama timbulnya berbagai krisis mental, emosional, spiritual dan arah hidup.
Mahjura (مَهْجُورًا) berasal dari kata hajara yang berarti meninggalkan, mengabaikan, atau tidak memperdulikan.
Ayat tersebut merujuk pada Surat Al-Furqan 30, di mana Nabi Muhammad SAW mengadu kepada Allah SWT mengenai kaumnya yang memperlakukan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang diabaikan:
"Dan Rasul (Muhammad) berkata, 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan.'
Melalui sumber kajian Makrifatul Qur'an, bahwa melalaikan Al-Qur'an membawa keburukan yang berdampak langsung pada segala masalah, kesejahteraan fisik, jiwa, mental, hingga keberkahan hidup.
Sebelum memahami dampaknya, penting untuk mengenali tingkatan kelalaian dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an, beberapa poin berikut mengutip kajian Ustaz Abdul Aziz Abdul Rauf Lc Al-Hafiz:
Dalam kajian ada tadabur surah Fussilat ayat 26, Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur'an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka).”
Mengutip tafsir ringkas KEMENAG, dari para pendurhaka itu dapat dilihat pada perbuatan orang-orang yang melarang mendengarkan bacaan Al-Qur’an.
Dan orang kafir berkata satu sama lain di antara sesamanya, "Janganlah kamu mendengarkan dengan cara apa pun bacaan Al-Qur’an ini, dan buatlah kegaduhan terhadapnya dengan cara berteriak-teriak atau bertepuk tangan sehingga tidak bisa didengar, agar kegaduhan dapat mengalahkan bacaan itu."
Berikut adalah 8 akibat fatal dari sikap melalaikan Al-Qur'an sebagaimana penjelasan dalam sumber kajian tarbiyah Quraniyah secara ringkas:
1. Kesesatan yang Nyata
Al-Qur'an berfungsi sebagai Az-Zikr (pengingat fitrah) dan kompas panduan hidup. Ketika seseorang mengabaikan petunjuk ini, ia secara sukarela melepaskan pedoman navigasi hidupnya sehingga sangat rentan kehilangan arah dan tersesat dalam mengambil keputusan.
Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. Az-Zumar,39: 22)
2. Dada Terasa Sesak dan Berpikir Picik
Mengabaikan petunjuk Al-Qur'an membuat kelapangan dada dicabut. Akibatnya, pola pikir menjadi pendek, picik, dipenuhi sudut pandang negatif (su'udzon), serta mudah merasa tertekan meskipun tinggal di lingkungan yang luas.
Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al-An’am, 6: 125)
3. Kehidupan yang Sempit dan Buta
Meskipun seseorang memiliki harta berlimpah, posisi tinggi, dan koneksi luas, jauh dari Al-Qur'an membuat kehidupannya terasa hambar dan senantiasa kurang. Rasa rakus, tamak, dan kecemasan berlebih timbul karena hatinya tidak merasakan ketenangan yang sejati.
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha, 20: 124)
4. Hati Menjadi Buta terhadap Kebenaran
Kebutaan kalbu lebih berbahaya daripada kebutaan fisik. Hati yang buta kesulitan membedakan antara yang benar dan salah, sulit menentukan prioritas, serta terdorong untuk mengabaikan hal-hal yang berhak dan halal-haram.
“Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj, 22: 46)
5. Hati Menjadi Keras dan Mati
Jarang tersentuh oleh ayat Al-Qur'an membuat hati mengeras melebihi batu. Dampaknya, seseorang menjadi sulit berempati, enggan menerima masukan atau kritik, angkuh, serta selalu merasa paling benar.
“Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An'am: 43)
6. Dosa dan Kehinaan di Dunia dan Akhirat
Kehormatan sejati tidak diukur dari standar materi atau jabatan. Seseorang yang melalaikan Al-Qur'an dapat dicabut kehormatannya di mata Allah dan manusia, sehingga kedudukan yang dimiliki tidak lagi mendatangkan kemuliaan.
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.” (QS. Ali-Imran, 3: 112)
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajdah, 32: 22)
7. Terjebak Menjadi Teman Setan
Tanpa Al-Qur'an sebagai perisai spiritual (azkar), seseorang tidak memiliki imunitas terhadap bujuk rayu dan jebakan setan. Ia dengan mudah terseret ke dalam pola hidup yang membinasakan.
Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur'an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya. (QS. Az-Zukhruf, 43: 36)
8. Fasik dan Lupa Diri
Dampak paling berat dari melupakan Allah dan Al-Qur'an adalah dibuat lupa terhadap keselamatan diri sendiri. Hal ini mengarahkan seseorang pada kefasikan, kesengsaraan, dan kerugian hakiki di dunia maupun akhirat.
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr, 59: 19)
Menjaga interaksi rutin dengan Al-Qur'an— nggak melupakannya baik melalui bacaan, menyimak, tadabbur, maupun hafalan—bukan sekadar kewajiban setiap muslim, melainkan kebutuhan mendasar untuk menjaga keimanan, kestabilan jiwa dan arah hidup yang jelas. InsyaAllah
.png)
.jpeg)