Heri Abu Mahbubi
Doa dzikir dengan Khusyu’, bahkan saat membaca dan memahami Al-Qur’an adalah kewajiban setiap Muslim. Surah Al-Hadid ayat 16 mengingatkan agar kita tidak seperti Ahlul Kitab yang hatinya mengeras karena kelalaian.

Quran Cordoba - Energi doa dan Khusyu’ merupakan salah satu sifat hati yang sangat penting dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Allah SWT mengingatkan orang-orang beriman agar hati berdzikir dan tunduk ketika mengingat-Nya dan merenungkan ayat-ayat-Nya.
Salah satu ayat yang secara khusus menggugah kesadaran ini adalah firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 16:
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hadid: 16)
Tafsir Kemenag:
(16) Pada ayat ini Allah menegur dan memperingatkan orang-orang mukmin tentang keadaan mereka yang lalai dan terlena. Belum datangkah waktunya bagi orang-orang mukmin untuk mempunyai hati yang lembut, senantiasa mengingat Allah, suka mendengar dan memahami ajaran-ajaran agama mereka, taat dan patuh mengikuti petunjuk-petunjuk kebenaran yang telah diturunkan, yang terbentang di dalam Al-Qur'an.
Melansir dari Tafsir Lengkap kemenag; Selanjutnya orang-orang mukmin diperingatkan agar jangan sekali-kali meniru-niru orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah diberikan Kitab Taurat dan Injil.
Sekalipun telah lama dan memakan waktu agak panjang, mereka belum juga mengikuti dan memahami ajaran nabi-nabi mereka, sehingga hati mereka menjadi keras dan sudah membatu, tidak lagi dapat menerima nasihat, tidak membekas pada diri mereka ancaman-ancaman yang ditujukan kepadanya.
Ayat ini merupakan teguran halus sekaligus peringatan bagi orang beriman agar tidak terjatuh pada kelalaian seperti umat-umat terdahulu.
Untuk memahami lebih dalam makna doa dzikir yang khusyu’ dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, mari kita telaah tadaburnya serta penjelasannya.
Ayat ini merupakan teguran halus sekaligus peringatan bagi orang beriman agar tidak terjatuh pada kelalaian seperti umat-umat terdahulu.
Untuk memahami lebih dalam makna doa dzikir yang khusyu’ dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, mari kita telaah tadaburnya serta penjelasannya.
Merenungkan dan menggali ayat Surah Al-Hadid ayat 16 diatas memberikan penjelasan mendalam tentang beberapa poin penting:
Ayat ini diawali dengan pertanyaan retoris (istifham inkari), yang bermakna teguran:
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman…?" Ini menunjukkan bahwa seharusnya orang beriman sudah mencapai tingkat kesadaran dan kekhusyu’an yang tinggi dalam berdzikir dan berdoa kepada-Nya.
Ulama tafsir menjelaskan bahwa pertanyaan ini bentuk muhasabah (introspeksi) bagi kaum Muslimin. Mereka seharusnya lebih peka terhadap kebenaran dan lebih cepat merespons hidayah dibandingkan umat sebelumnya.
Allah memperingatkan agar orang beriman tidak menyerupai Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang telah diberi kitab sebelumnya, tetapi karena kelalaian yang panjang, hati mereka mengeras. Karena melalui masa yang panjang tidak ada yang mengingatkan.
“..kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik…”
Dalam Tadabbur amal, kekerasan hati terjadi ketika seseorang terbiasa mendengar ayat-ayat Allah tetapi tidak merespons dengan iman dan amal. Lama-kelamaan, hati menjadi tumpul, tidak lagi terpengaruh oleh nasihat, dan akhirnya terjatuh dalam kefasikan.
Kekhusyu’an bukan sekadar rasa haru dengan doa dan dzikir sesaat, melainkan ketundukan hati yang membuahkan ketakwaan dan ketaatan.
Penekanannya bahwa khusyu’ adalah sikap hati yang terus-menerus hadir dalam interaksi dengan Al-Qur’an, sehingga melahirkan perubahan dalam perilakunya.
Contohnya ketika salat, Allah berfirman di surah Al-Mu’minun ayat 2:
“(yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya”
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bacalah Al-Qur’an dan menangislah. Jika kalian tidak bisa menangis, maka berusahalah untuk menangis." (HR. Ibnu Majah, hasan)
Hadis ini menunjukkan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an seharusnya menyentuh hati. Jika seseorang tidak merasakan tangisan secara spontan, ia harus berusaha menghadirkan kekhusyu’an dengan merenungkan maknanya sampai menyentuh hati yang lembut.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujah, baunya harum dan rasanya lezat." (HR. Bukhari & Muslim)
Orang yang membaca Al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan) akan merasakan kelezatan iman dan kekhusyu’an, seperti buah yang menyegarkan. Ini menunjukkan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an harus melibatkan hati yang lembut, bukan sekadar bacaan lisan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan kesedihan. Maka jika kalian membacanya, menangislah. Jika tidak bisa menangis, berusahalah untuk menangis. Dan bacalah dengan tartil (perlahan). Barangsiapa yang tidak membacanya dengan tartil, maka ia bukan dari golongan kami." (HR. Abu Dawud, hasan)
Hadis ini menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an harus disertai penghayatan dan keindahan maknanya. Jika hati tidak tersentuh, seseorang harus berusaha menghadirkan kekhusyu’an, karena Al-Qur’an adalah firman Allah yang seharusnya menggetarkan jiwa dengan keindahan maknanya.
Baca Juga: 5 Pesan Doa yang Menyentuh di Usia 40 Tahun
Kekhusyu’an tidak akan tercapai tanpa memahami makna. Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
"Tidak ada kebaikan dalam bacaan (Al-Qur’an) yang tidak disertai tadabbur."
Allah berfirman:
"Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil)." (QS. Al-Muzzammil: 4)
Membaca dengan tartil membantu hati lebih mudah merenungkan makna.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyarankan agar sebelum membaca Al-Qur’an, seseorang membersihkan hatinya dari gangguan dunia dan fokus hanya pada Allah.
Doa dzikir dengan Khusyu’, bahkan saat membaca dan memahami Al-Qur’an adalah kewajiban setiap Muslim. Surah Al-Hadid ayat 16 mengingatkan kita agar tidak seperti Ahlul Kitab yang hatinya mengeras karena kelalaian.
Baca Juga: Doa-doa Agar Diberi Khusyuk dalam Shalat
Energi doa dan dzikir yang khusyu’ adalah ketundukan hati yang melahirkan ketakwaan. Ayat-ayat Quran mengangkat derajat bagi pembaca dan sahabatnya.
Hadis-hadis Rasulullah ﷺ juga menekankan pentingnya tadabbur, tartil, dan kesungguhan saat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Tanpa energi kekhusyu’an, bacaan Al-Qur’an hanya menjadi rutinitas tanpa makna.
Mari evaluasi diri: Sudahkah hati kita benar-benar khusyu’ saat membaca Al-Qur’an? Doa dan dzikir kita apakah ikhlas ingin meraih keridaan Allah atau sebaliknya hati malah mengeras?
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang khusyu’ dalam berinteraksi dengan firman-Nya. amin
Wallahu a’lam bish-shawab.

