Heri Mahbub
Sebenarnya apa manfaat kerja dan ibadah?” Ketika cape dan lelah bekerja, lalu salat, bahkan bangun di akhir malam. Semua ternyata mengandung kesembuhan hati. Efek kerja keras dan kekuatan Tahajud yang jarang dibahas: Ada kesehatan mental di baliknya, rugi kalau gak tahu.
.jpg)
Quran Cordoba - Pernah nggak, pulang kerja dengan tubuh lelah, keringat bercucuran, pikiran penuh beban—lalu muncul satu pertanyaan di hati: “Capek-capek begini, sebenarnya apa manfaat lebih selain materi?”
Di era sekarang, bekerja sering dipersepsikan sekadar tuntutan hidup. Rutinitas yang menguras energi, memicu stres, bahkan dianggap musuh kesehatan mental.
Padahal, Islam sejak awal justru menempatkan bekerja sebagai sumber kemuliaan, kesehatan, dan keberkahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik daripada hasil kerja keras tangannya sendiri.” (HR Bukhari)
Menariknya, apa yang disabdakan Nabi lebih dari 14 abad lalu kini mulai dikonfirmasi oleh sains modern, sebagaimana dijelaskan dalam kajian Quran Medis.
Dalam Quran Medis, bekerja tidak hanya dipahami sebagai aktivitas ekonomi, tetapi sebagai proses penyelarasan jiwa dan raga. Setiap usaha halal yang dilakukan dengan niat benar bernilai ibadah dan berdampak langsung pada kesehatan manusia.
Ilmu kedokteran modern mendukung hal ini. Sebuah tinjauan sistematis dari berbagai penelitian menemukan bahwa orang yang bekerja memiliki kesehatan mental lebih baik, risiko depresi lebih rendah, serta kualitas hidup yang lebih stabil dibandingkan mereka yang menganggur dalam jangka panjang.
Dalam perspektif Medis, manusia diciptakan untuk bergerak, berikhtiar, dan berkarya. Diam dalam kemalasan justru bertentangan dengan fitrah tubuh dan jiwa.
Jurnal lmu pengetahuan yang tercantum di Quran Medis, menguatkan pesan Sunah Nabi. Sebuah systematic review dalam jurnal Occupational & Environmental Medicine menyimpulkan bahwa:
Bekerja memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan mental, termasuk menurunkan risiko depresi dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.
Orang yang memiliki aktivitas kerja—terutama yang bermakna—cenderung:
Bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi terapi alami bagi jiwa manusia
📚 Referensi:
van der Noordt M, et al. (2014). Health effects of employment: a systematic review of prospective studies. Occupational and Environmental Medicine.
Artinya, bekerja bukan sekadar melelahkan tubuh—tetapi menjaga kewarasan jiwa.
Salah satu temuan menarik dalam dunia medis adalah myokin—zat kimia yang dilepaskan otot saat tubuh bergerak dan bekerja.
Saat kamu berjalan, mengangkat, bergerak aktif, atau bekerja secara fisik maupun semi-fisik, ototmu tidak hanya “lelah”. Ia sedang memproduksi myokin yang berfungsi untuk:
📚 Referensi:
Mucher P, et al. (2021). Basal myokine levels are associated with quality of life and depressed mood in older adults. Psychophysiology.
Dengan kata lain, kerja yang halal dan aktif adalah terapi alami. Tubuhmu sedang “bersyukur” lewat proses biologis yang Allah ciptakan.
Dalam kacamata Quran Medis, kerja keras yang benar memberi dampak berlapis:
1. Berkah Rezeki Bukan hanya cukup, tapi menenangkan. Rezeki halal membawa ketentraman batin.
2. Sehat Jiwa dan Raga Aktivitas kerja menstabilkan hormon, menekan stres, dan menjaga kesehatan mental.
3. Bernilai Ibadah Setiap langkah mencari nafkah halal dicatat sebagai ketaatan kepada Allah.
Inilah keindahan Islam: yang duniawi bisa bernilai ukhrawi, dan yang spiritual berdampak biologis.
Namun Islam tidak berhenti di kerja keras siang hari saja. Ada satu “penyeimbang” luar biasa yang sering dilupakan: salat tahajud. bangun di akhir malam.
“Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil, 73: 2-4)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan; siapa yang meminta, Aku beri; dan siapa yang memohon ampun, Aku ampuni.” (HR Bukhari, 1145)
Bayangkan—di saat dunia terlelap, Allah sendiri membuka dialog langsung dengan hamba-Nya. Menyembuhkan hati dan memulihkan negeri yang banyak musibah.
Dalam Quran Medis (hal. 598), tahajud dijelaskan sebagai ibadah yang tidak hanya menguatkan ruh, tetapi juga menyehatkan jiwa dan tubuh.
Penelitian meta-analisis menunjukkan bahwa salat tahajud berkontribusi signifikan dalam:
📚 Referensi:
Utami, Tri & Usiono, M.A. (2020). Meta-Analysis Study of Tahajud Prayer to Reduce Stress Response.
Gerakan salat yang ritmis, waktu yang sunyi, serta kekhusyukan spiritual menciptakan kondisi relaksasi mendalam yang menyeimbangkan sistem saraf.
Islam mengajarkan keseimbangan yang indah:
Kerja menguatkan fisik dan mental. Tahajud menenangkan jiwa dan membersihkan hati. Inilah resep hidup sehat ala Rasulullah di Quran Medis—holistik, manusiawi, dan penuh keberkahan.
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra, 17: 79)
Setiap tetes keringat saat bekerja halal, dan setiap sujud di sepertiga malam, sedang membangun versi terbaik dari dirimu—sehat jasmani, tenang rohani, dan kuat iman.
Jadi, kalau hari ini kamu lelah bekerja, dan malamnya masih mampu bangun walau hanya dua rakaat tahajud, yakinlah:
kamu sedang berjalan di jalur kesembuhan hati, kesehatan dunia dan keselamatan akhirat.

Wallahualam bishawab
.jpg)
