Heri Abu Mahbubi
Rahasia parenting ala ulama salaf, tiga generasi terbaik setelah Rasulullah. Pelajari 10 cara mendidik anak agar shaleh, kuat, mandiri, dan berprestasi. Didik anak dengan teladan, reward, life skill sejak dini. Inspirasi Quran untuk generasi yang berkarakter.
.jpeg)
Quran Cordoba - Dalam sejarah peradaban Islam, para ulama salaf tidak hanya dikenal karena keilmuannya yang mendalam, tetapi juga karena keberhasilan mereka dalam mendidik generasi penerus.
Bagi mereka, parenting atau pola asuh anak adalah investasi utama untuk melahirkan generasi terbaik. Lantas, apa saja rahasia yang mereka terapkan?
Berikut 10 prinsip emas pendidikan anak ala ulama salaf yang tetap relevang dan bisa Anda terapkan dalam keluarga modern saat ini.
Para ulama salaf menjadikan ibadah sebagai fondasi utama. Mereka tidak sekadar memberi nasihat, tetapi juga memberikan teladan langsung. Allah berfirman tentang Nabi Ismail yang menjadi sosok ayah yang diridai-Nya:
“Dan dia menyuruh keluarganya untuk (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat, dan dia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam: 55)
Pesan utama dari ayat ini: anak-anak akan tumbuh dalam ketaatan jika mereka melihat orang tuanya juga komitmen menjalankan ibadah, bukan hanya disuruh.
Ibnu Mas'ud berkata, “Biasakanlah anak-anak agar terbiasa melakukan kebaikan.” Tradisi salaf adalah melatih anak menghafal ayat-ayat tertentu sebagai wirid harian. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda tentang dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah:
“Allah memberiku dua ayat ini dari perbendaharaan-Nya di bawah ‘Arasy. Maka pelajarilah dan ajarkanlah kepada istri dan anak-anak kalian.”
Ini menunjukkan bahwa membiasakan anak dengan bacaan Al-Qur’an bukan hanya ibadah, tetapi juga warisan spiritual yang luar biasa.
Imam As-Silmi, seorang ahli hadits dan fiqih, berkata: “Saat hendak haji, aku pamit pada ibuku. Ibuku berpesan, ‘Kamu akan datang ke Baitullah, maka jangan sampai dua malaikat pencatat amal mencatat keburukan darimu. Kelak engkau akan malu.’”
Pesan ini mengajarkan bahwa anak harus selalu sadar ada pengawasan ilahi, sehingga ia tumbuh dengan integritas, bukan karena takut pada manusia.
Para ulama salaf paham betul bahwa anak-anak butuh apresiasi. Ibrahim bin Adham bercerita: “Ayahku berkata, ‘Wahai anakku, carilah hadits. Setiap kali kau dengar dan hafal satu hadits, kuberi satu dirham.’ Maka aku belajar hadits bermula dari motivasi itu.”
Ada pula kisah Abdullah bin Hasan yang menyembelih seekor unta dan mengundang banyak orang saat putranya khatam Qur’an dan menguasai ilmu tertentu. Ini bentuk penghormatan dan penyemangat bagi anak.
Utbah bin Abi Sofyan menitipkan putranya kepada seorang murabbi. Pesannya sangat dalam: “Aku ingin pendidikan anakku dimulai dari kesalehanmu, karena mata anak didik akan selalu melihatmu. Ajari mereka kitab Allah, jangan paksa menghafal agar tidak jenuh. Tanamkan cinta Al-Qur’an secara lembut.”
Demikian pula Ibnu Al-Jauzi dan ayah Muhammad Al-Fatih (Sultan Utsmani) yang memanggil guru-guru terbaik untuk mendidik putra mereka. Kuncinya: pilih pendidik yang saleh, bukan sekadar pandai.
Ibnu Miskawai, filsuf dan ulama akhlak, memperingatkan: “Jangan serahkan pendidikan anak pada pembantu, karena kita khawatir akhlak mereka akan menular.”
Dalam konteks kekinian, ini analog dengan gadget. Orang tua harus memastikan anak mendapat pendidikan terbaik.
Lihatlah Ibunda Imam Syafi’i yang rela pindah dari Palestina ke Makkah demi anaknya bisa belajar pada ulama terpercaya. Begitu pula Ibunda Abu Hanifah yang tetap mengantar anaknya shalat berjamaah dan belajar meski di musim dingin.
Umar bin Abdul Azis berpesan: “Didiklah anak sesuai zamannya.” Ia memerintahkan agar setelah anak kuat tilawah Al-Qur’an, diajari memanah, berjalan tanpa alas kaki ke lapangan, dan dilatih menghadapi medan sebenarnya.
Ini bentuk pendidikan life skill dan kemandirian fisik.
Ibnu Al-Jauzi tumbuh menjadi ulama produktif dan orator ulung. 5.000 orang masuk Islam hanya karena mendengar ceramahnya.
Semua itu karena gurunya sejak kecil mampu mengenali bakatnya dan mengembangkannya. Orang tua salaf tidak memaksakan kehendak, tapi menelusuri potensi istimewa anak.
Ibnu Syihab az-Zuhri memotivasi anak-anaknya: “Jangan meremehkan diri karena usiamu. Umar bin Khattab justru memanggil pemuda saat menghadapi masalah berat karena menginginkan ketajaman pikiran mereka.”
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kemandirian langsung. Suatu hari beliau melihat anak kecil kesulitan menguliti kambing. Beliau berkata, “Minggirlah, kuperlihatkan caranya.” Lalu Rasul mempraktikkan dengan sabar. Anak itu fokus, merekam gerakan, dan termotivasi untuk mandiri.
Umar bin Khattab berkata, “Ilmu tidak terkait usia, tidak terkait senioritas. Allah meletakkannya pada siapa yang Dia kehendaki.” Buktinya, Ibnu Abbas sejak kecil sudah menjadi alim dan mengajar para tokoh senior seperti Abdurrahman bin Auf.
Hakim bin Hizam, seorang pemuda, berani membacakan tafsir dan hadits kepada Mu’adz bin Jabal—sahabat yang paling tahu halal-haram. Ketika ditegur, Mu’adz menjawab, “Kamu takabur.”
Allah sendiri mengingatkan kisah penuh pelajaran antara ayah dan anak-anaknya, dalam QS. Yusuf (12):111: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.”
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
Mendidik anak ala ulama salaf bukan berarti kaku dan ketinggalan zaman. Justru prinsip-prinsip seperti keteladanan, pembiasaan, penghargaan, kepercayaan pada guru, life skill, dan penghormatan pada pendapat anak adalah fondasi parenting islami yang kuat.
Jadikan kisah-kisah ini sebagai inspirasi agar generasi penerus kita tumbuh menjadi pribadi yang saleh, mandiri, dan kuat. Wallahualam
[Sumber: Webinar bersama tokoh Parenting Islam]
.jpeg)
