Heri Abu Mahbubi
Survei 600 responden DKI Jakarta 2026: hasilnya 33,2% buta huruf Al-Qur’an dan 57,5% perlu penguatan baca. Simak wilayah prioritas, permasalahan, dan faktor kunci solusinya, juga pandangan dari Quran Cordoba sebagai penerbitan terkemuka di Indonesia.
.jpeg)
Quran Cordoba - Jakarta adalah kota dengan masjid di hampir setiap sudut dan majelis taklim di setiap pekan. Namun di balik denyut keislaman itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan terbuka: seberapa banyak warganya yang benar-benar melek membaca Al-Qur’an? Adakah survei yang mengungkapnya?
Sebuah riset terbaru mencoba menjawabnya dengan data. Hasilnya menyentak: 57,5% responden berada di kategori buta huruf dan pembaca dasar, dan sepertiga di antaranya, tepatnya 33,2%, masih belum mampu membaca Al-Qur’an sama sekali. Ini permasalahan di kota besar, Ibukota Indonesia.
Survei Buta Huruf Al-Qur’an Masyarakat DKI Jakarta 2026 ini sistematis, memetakan kemampuan baca responden ke dalam empat tingkat atau levelnya:
Jika K0 dan K1 digabung, jumlahnya mencapai 345 dari 600 responden, atau 57,5%. Artinya, lebih dari separuh responden membutuhkan program belajar yang terstruktur, bertahap, dan sesuai kemampuan awal masing-masing. Hanya sekitar satu dari tujuh responden yang tergolong mahir.
Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods: data kuantitatif untuk mengukur kemampuan baca, dan data kualitatif untuk memperdalam temuan. Pengumpulan data berlangsung selama tujuh hari, 27 September hingga 3 Oktober 2026, dengan rincian:
Penilaian tidak sekadar bisa atau tidak bisa. Ada enam indikator yang dipakai: 1. pengenalan huruf hijaiyah, 2. ketepatan makhraj, 3. penerapan tajwid, 4. kelancaran, 5. panjang-pendek bacaan, dan 6. Tartil sesuai kaidah bacaan.
Jakarta Timur dan Jakarta Utara Jadi Wilayah Prioritas
Peta sebaran menunjukkan ketimpangan antarwilayah. Jakarta Timur mencatat proporsi K0 dan K1 tertinggi, yakni 75,3%, dengan rincian 44,1% buta huruf dan 31,2% pembaca dasar. Dengan kata lain, tiga dari empat responden di wilayah ini belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik.
Jakarta Utara menyusul dengan gabungan K0 dan K1 sebesar 58,3%, sedikit di atas rata-rata DKI Jakarta. Kedua wilayah ini menjadi kandidat utama bagi program penguatan baca Al-Qur’an.
Temuan yang paling menarik justru datang dari analisis faktor. Dengan metode PLS-SEM, (Structural Equation Modeling - Partial Least Squares) adalah teknik analisis statistik berbasis varian yang digunakan untuk menguji hubungan kompleks antarvariabel laten. Metode ini sangat cocok untuk penelitian eksploratif, model prediktif, atau ukuran sampel yang relatif kecil
Akhirnya peneliti menemukan bahwa kualitas pembelajaran berpengaruh signifikan terhadap kemampuan membaca Al-Qur’an, dengan koefisien 0,347.
Sebaliknya, motivasi belajar tidak berpengaruh langsung yang signifikan terhadap kemampuan membaca. Motivasi memang dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran (0,375) dan dukungan lingkungan (0,376), tetapi motivasi tinggi saja tidak cukup.
Tanpa pengajaran berkualitas, latihan, dan bimbingan yang konsisten, kemampuan baca tidak ikut naik. Hasil penelitian ini seharusnya menjadi perhatian semua yang aktif di dakwah Quran.
Pesannya jelas: semangat belajar perlu diwadahi dengan cara belajar yang tepat. Metode yang sesuai.
Berdasarkan temuan tersebut, pembelajaran Al-Qur’an yang efektif memerlukan lima hal:
Efektivitas program pun dapat diukur dengan jelas, yaitu melalui perpindahan peserta antar kategori, misalnya dari K0 ke K1, dari K1 ke K2, dan seterusnya.
Peneliti menegaskan bahwa penuntasan masalah ini tidak bisa dikerjakan satu pihak. Dibutuhkan kolaborasi pemerintah, Kementerian Agama, MUI, ormas Islam, perguruan tinggi, pesantren, madrasah, masjid, musala, dan masyarakat luas, dengan lima tahap kerja:
Anggota Komisi VIII DPR RI, Hidayat Nur Wahid, yang hadir dan mendukung dalam diseminasi hasil penelitian, menyatakan optimisme bahwa persoalan buta huruf Al-Quran ini dapat dituntaskan dalam satu periode kepemimpinan presiden apabila seluruh potensi bangsa bergerak bersama.
Survei ini memberi tiga pelajaran. Lebih dari separuh responden perlu penguatan baca Al-Qur’an. Kualitas pembelajaran adalah kuncinya. Dan penuntasannya menuntut kolaborasi lintas lembaga. Kota-kota lainnya perlu melihat dan tidak berbeda jauh dengan Jakarta.
Masalah literasi Al-Qur’an di Jakarta kini nyata dan telah terpetakan. Langkah berikutnya adalah menghadirkan program yang tepat sasaran, dimulai dari wilayah yang paling membutuhkan, dan diukur dari berapa banyak orang yang naik tingkat, bukan sekadar berapa kegiatan yang terlaksana.
Hasil survei dipaparkan dalam diseminasi pada Sabtu, 10 Oktober 2026, di Gren Alia Hotel, Jakarta Pusat, dihadiri 109 peserta dari Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Kegiatan ini bagian dari Pelatihan Guru Al-Qur’an Yayasan Sanggar Al-Qur’an Mardani Lima, yang didanai Program Kemaslahatan BPKH RI melalui Rumah Zakat.
Tim peneliti terdiri dari tiga dosen STAI DI Al-Hikmah (Dr. Derysmono, Kanjul Rakib, dan Silvia Marina) bersama STIT An-Nuaimy, STAI Al-Qudwah, dan Universitas Darunnajah.
Bagi penerbit mushaf dan buku Islami seperti Quran Cordoba, temuan ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden membutuhkan alat belajar yang bertahap, bukan sekadar mushaf baca, hafal, dan faham.
Selama ini Quran Cordoba dikenal lewat mushaf tematik seperti Quran Medis, Quran Hafalan, Tajwid, Quran Bisnis Amal Niaga, Tadabur, Mushaf Doa Zikir dan lainnya.
Pendekatan tematik itu berangkat dari keyakinan bahwa mushaf yang tepat adalah yang sesuai dengan kebutuhan pembaca dan kemampuannya. Survei ini memperlihatkan kebutuhan lain yang sama besarnya: pembaca yang belum bisa membaca sama sekali sangat besar persentasenya.
Dengan 57,5% responden berada di kategori K0 dan K1, kebutuhan terbesar ada pada produk belajar yang melangkah bertahap, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah hingga tajwid praktis. Bagi penerbit, ini berarti lebih dari separuh pasar yang terpetakan dalam survei membutuhkan titik awal belajar yang jelas, bukan hanya mushaf bacaan lanjutan.
Survei menilai kemampuan baca lewat enam indikator: huruf hijaiyah, makhraj, tajwid, kelancaran, panjang-pendek bacaan, dan tartil. Keenamnya bisa menjadi kerangka desain produk.
Mushaf dan materi pendamping dapat disusun untuk membantu makhraj, tajwid, panjang-pendek, dan tartil, dilengkapi contoh audio agar pembelajar mendengar bacaan yang benar.
Contoh bacaan yang benar dan latihan berulang adalah dua dari lima syarat pembelajaran efektif yang dirumuskan dalam survei. Saat ini aplikasi Quran Cordoba dan Quran Cordoba Pro, yang diluncurkan dalam rangkaian ISEF Oktober 2026, berpeluang menjadi kanal pendamping: mushaf cetak sebagai pegangan belajar, aplikasi sebagai ruang mendengar dan berlatih.
Karena kualitas pembelajaran terbukti menjadi faktor kunci, mushaf Quran sebagai pembantu saja. Produk mushaf belajar dan mudah perlu hadir bersama guru yang terlatih. Kemitraan dengan program pelatihan guru dan lembaga zakat, seperti BAZNAS, Rumah Zakat dan lainnya menjadi jalur yang menopang riset ini, membuka kanal kerja sama kelembagaan bagi penerbit.
Jakarta Timur dan Jakarta Utara bisa menjadi lokasi uji program. Ukuran keberhasilannya sederhana dan terukur: berapa banyak peserta yang berpindah dari K0 ke K1, lalu seterusnya naik tingkat. InsyaAllah

Catatan Sumber: angka dalam artikel ini menggambarkan responden yang diteliti. Penafsirannya perlu disesuaikan dengan cakupan dan desain survei.
Sumber Terkait:
https://www.mpr.go.id/berita/hnw-pemberantasan-buta-huruf-al-quran-dki-jakarta
https://alhikmah.ac.id/berita/hasil-survei-buta-huruf-al-quran-jakarta/
.jpeg)

.jpeg)