Heri Mahbub
Pelajari 5 ilmu nubuwah Muhammad ﷺ yang membahas sirah, sifat, keutamaan, mukjizat, dan keistimewaan Rasulullah. Artikel ini menyelami keilmuan jejak agung Nabi dengan penuh cinta dan makna. Semoga kita setia mengikuti ajarannya dan menjadi umatnya sampai akhir.
Quran Cordoba - Ilmu Menyelami Samudra Nubuwah
Rasulullah ﷺ bukan hanya teladan bagi umat Islam, tetapi juga pusat dari samudra ilmu yang tak pernah kering. Keagungan beliau ﷺ tidak hanya terlihat dari ajaran yang dibawa, tetapi juga dari cara para ulama meneliti setiap aspek kehidupannya.
Salah satu warisan paling berharga adalah kumpulan disiplin ilmu yang dikenal sebagai ‘Ulūm an-Nubuwah — ilmu-ilmu kenabian. Ada 5 hal berisi dengan berjilid kitab-kitab karya para Ula yang menulisnya, apa saja itu?
Melalui lima ilmu nubuwah ini, umat Islam diajak untuk memahami Rasulullah ﷺ secara menyeluruh: dari perjalanan hidupnya, kepribadiannya, keutamaannya, hingga mukjizat dan keistimewaan yang Allah berikan kepadanya.
Dengan memahami 5 ilmu tersebut, kita mudah memahami tugas dan misi kerasulannya, seperti dalam Al-Quran surat Al-Anbiya ayat 107,
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
Menyelami ilmu ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan mendalam dan kedekatan dengan Sang Kekasih Allah, diantaranya:
Ilmu Sirah mempelajari setiap detail perjalanan hidup Nabi ﷺ — mulai dari kelahiran beliau di Makkah, masa kecil penuh kasih sayang, masa muda yang jujur dan amanah, hingga diangkat menjadi Rasul dan menebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.
Kitab-kitab klasik juga terkini seperti Sirah Ibn Ishaq, Ar-Raheeq al-Makhtum, Al-Yatim penerbit Cordoba menjadi rujukan utama para penuntut ilmu dalam memahami bagaimana perjuangan Nabi ﷺ menghadapi ujian, baik saat menjadi minoritas di Makkah maupun sebagai pemimpin negara di Madinah.
Mempelajari sirah membuat kita memahami betapa Rasulullah ﷺ adalah manusia yang penuh keteguhan. Saat di Thaif, beliau dihina dan dilempari batu, tetapi tetap mendoakan kebaikan bagi mereka.
Dari kisah sirah nabawiyah ini, umat Islam diajak belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan iman dalam menghadapi ujian hidup.
Jika Ilmu Sirah menggambarkan perjalanan hidup Nabi ﷺ, maka Ilmu Syamā’il Muhammadiyah menyingkap keindahan akhlak dan fisik beliau. Melalui kitab Ash-Shamā’il al-Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi, umat Islam dapat mengetahui gambaran fisik Nabi ﷺ: wajahnya yang bercahaya, senyumnya yang menenangkan, dan tutur katanya yang lembut.
Namun, keindahan sejati Rasulullah ﷺ terletak pada akhlaknya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qalam [68]:4:
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Melalui ilmu ini, kita diajak meneladani kesehariannya, kelembutan beliau dalam berdakwah, kesabaran dalam menghadapi penentangan, dan kasih sayang beliau kepada keluarga dan umatnya.
Mengetahui Syamā’il yang telah banyak diterbitkan hari ini, tujuannya sekadar membaca profil dan deskripsi fisiknya, tetapi meresapi aura keteladanan Nabi ﷺ.
Kitab ini menjelaskan detail menakjubkan tentang Rasulullah ﷺ. menyingkap keindahan pribadinya baik secara fisik maupun akhlak. Beliau memiliki wajah bercahaya, senyuman menenangkan, tutur kata lembut, dan akhlak yang memikat siapa saja yang mengenalnya.
Ilmu Fadhā’il mempelajari keutamaan-keutamaan Nabi ﷺ, baik secara umum maupun dibandingkan dengan para nabi lain. Rasulullah ﷺ diberi banyak keistimewaan oleh Allah SWT yang tidak dimiliki nabi lainnya. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda:
“Aku diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku.”
Beberapa di antaranya:
Ilmu ini menumbuhkan rasa syukur dan kebanggaan dalam diri kita sebagai umatnya. Memahami keutamaan beliau membuat kita semakin mencintai dan menghormatinya.
Ilmu Dalā’il membahas tanda-tanda kenabian Rasulullah ﷺ, termasuk mukjizat dan karamah yang menyertainya. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar beliau, tak tertandingi oleh apa pun, baik dari sisi bahasa, struktur, maupun kebenaran ilmiah yang dikandungnya.
Contohnya kitab bernama Dalā’il al-Nubuwwah karya Imam al-Bayhaqī (w. 1066 M). Kitab ini bukan hanya biografi Nabi Muhammad SAW. dengan pendekatan hadits dan riwayat, melainkan juga menjadi pembuktian dalam membangun tradisi otoritas kenabian dan keilmuan Islam.
Dalā’il al-Nubuwwah menempati posisi istimewa karena bukan hanya membahas sejarah Nabi secara naratif, tetapi juga membuktikan kebenaran kenabian melalui dalil-dalil, argumentasi, dan mukjizat yang bersumber dari Quran dan Hadis sahih.
Selain Al-Quran, terdapat pula mukjizat lain, seperti peristiwa Isra’ Mi’raj, air yang memancar dari jemarinya, serta doa beliau yang dikabulkan untuk kemenangan umat Islam.
Dengan mempelajari Ilmu Nubuwah Dalā’il, kita menyadari bahwa kenabian Nabi Muhammad ﷺ adalah kebenaran mutlak. Mukjizat-mukjizat ini bukan sekadar kisah, tetapi bukti nyata tentang keberkahan hidupnya, bahwa beliau Nabi dan Rasul akhir zaman.
Ilmu Khashā’is menyingkap keistimewaan-keistimewaan Nabi ﷺ, baik yang berkaitan dengan syariat maupun keutamaan pribadi beliau. Kitab yang cukup terkenal seperti Al-Khasais al-Kubra (As-Suyuthi). Beberapa keistimewaannya antara lain:
Keistimewaan ini menegaskan posisi Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin seluruh nabi dan umat manusia. Allah memuliakannya dengan anugerah yang tidak diberikan kepada siapa pun selain beliau.
Memahami ilmu nubuwah bukan sekadar menambah wawasan, tetapi sarana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Meneladani akhlaknya, mempelajari sirahnya, dan merenungi keutamaannya akan membuat kita semakin dekat dengan sunnahnya.
Mencintai Nabi berarti mencintai ilmunya. Dan mencintai ilmunya berarti meneladani jalan hidupnya. Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik untuk menjadi pribadi penuh rahmat, sabar, dan bijaksana — sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab [33]:21:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
Lima cabang ilmu nubuwah — Ilmu Sirah, Syamā’il, Fadhā’il, Dalā’il, dan Khashā’is — adalah pintu untuk memahami keagungan Rasulullah ﷺ secara utuh.
Dengan mempelajarinya, kita bukan hanya mengenal Nabi secara lahir, tetapi juga menghayati cahaya kenabian yang Allah pancarkan melalui dirinya.
Mari kita jadikan mempelajari ilmu-ilmu ini sebagai bagian dari ibadah, sekaligus wujud cinta kepada Rasulullah ﷺ. Karena semakin mengenalnya, semakin kita merindukannya, dan semakin kuat pula iman kita kepada Allah dan Rasul-Nya.
Wallahu'alam