Heri Abu Mahbubi
Ingin dicintai Allah? Pelajari 7 kriteria istimewa ini dalam Al-Qur'an: dari bertakwa, berbuat baik, penyabar, pengikut Rasul, rendah hati, tawakal hingga ahli taubat. Lengkap dengan dalil dan motivasi meraih cinta dan manisnya iman.

Quran Cordoba - Setiap Muslim pasti mendambakan cinta Allah. Bukan sekadar cinta biasa, tetapi rasa yang meliputi perlindungan, pertolongan, dan kebahagiaan hakiki di dunia maupun akhirat.
Namun, cinta Allah tidak datang begitu saja. Ia memiliki syarat dan kriteria yang jelas, sebagaimana dijelaskan langsung dalam Al-Qur'an.
Ada kabar gembira besar: Allah tidak menyembunyikan kriteria tersebut. Ia dengan terang menyebutkan minimal tujuh kriteria perilaku manusia yang Istimewa di mata-Nya.
Mereka adalah orang-orang pilihan, kemuliaan, dan janji ganjaran tak terhingga.
Mari kita menyelami lautan cinta ilahi ini, satu per satu.
Kriteria pertama yang disebut oleh Allah adalah Al-Muttaqin—orang-orang yang bertakwa. Takwa sering disederhanakan sebagai "takut kepada Allah", namun maknanya jauh lebih dalam dari itu.
Takwa adalah konsistensi jiwa untuk melaksanakan setiap perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya, dalam kondisi suka maupun duka, lapang maupun sempit.
Ciri orang bertakwa adalah ia tidak pernah bertanya, "Apakah ini menguntungkan bagiku?" Ia hanya bertanya, "Apakah ini diridhai Allah?"
Dalam situasi bisnis yang menjanjikan untung besar namun mengandung riba, ia meninggalkannya. Dalam kondisi sendirian tanpa pengawasan, ia tetap menjaga pandangan dan ucapannya. Karena baginya, takwa adalah prioritas non-negoable.
Allah berfirman dengan tegas:
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa." (QS. At-Taubah: 4)
Ayat ini menghapus keraguan. Jika ingin dicintai Allah, jalan pertamanya adalah menjadikan takwa sebagai mahkota hati.
Setelah takwa, Allah menyebut golongan Al-Muhsinin, yaitu mereka yang berbuat baik dengan kebersihan hati dan ketulusan niat. Kebaikan yang dimaksud bukan hanya kebaikan besar yang terlihat mata, tetapi juga kebaikan-kebaikan kecil yang sering kita abaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jangan sekali-kali meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah berseri." (HR. Muslim)
Subhanallah, senyum adalah sedekah. Menyingkirkan duri dari jalan adalah kebaikan. Mengucapkan kata-kata lembut kepada orang tua adalah kebaikan. Seorang muhsin tidak pernah kehabisan ladang amal, karena ia memandang setiap detik adalah peluang untuk menebar manfaat.
Allah menjanjikan cinta-Nya bagi mereka:
"Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195)
Ketiga adalah Ash-Shabirun, para pecinta kesabaran. Namun perlu dipahami, sabar dalam Islam bukanlah pasrah tanpa daya. Sabar adalah ketabahan yang aktif dan terus-menerus dalam menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan.
Para ulama membagi sabar menjadi tiga medan laga:
Pertama, sabar ketika tertimpa musibah (kematian, sakit, kehilangan harta). Ia tidak berkeluh kesah, tidak menyalahkan takdir, namun tetap berikhtiar.
Kedua, sabar dalam melakukan ketaatan. Ia terus shalat malam meski mengantuk, terus membaca Al-Qur'an meski lelah, terus bersedekah meski ekonominya pas-pasan.
Ketiga, sabar dalam meninggalkan maksiat. Ia menahan diri dari ghibah, dari zina mata, dari kemarahan yang berlebihan.
Allah memberikan gambaran luar biasa tentang kesabaran para nabi dan pengikutnya:
"Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (QS. Ali Imran: 146)
Sabar adalah kunci. Ia mengubah musibah menjadi pahala, ketaatan menjadi kenikmatan, dan maksiat menjadi kebebasan.
Kriteria keempat ini sangat istimewa karena ia menjadi ujian kejujuran cinta kita kepada Allah. Banyak orang mengaku cinta Allah, namun enggan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
Allah menantang manusia dengan ayat yang fenomenal:
"Katakanlah (wahai Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. Ali Imran: 31)
Perhatikanlah. Ayat ini tidak mengatakan "cukuplah berdzikir" atau "cukuplah bersedekah". Ia mengatakan: bukti cintamu kepada Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah dalam setiap aspek kehidupan—dalam cara makan, berpakaian, bertransaksi, mendidik anak, hingga menjaga lisan.
Jika kita merindukan cinta Allah dan ampunan dosa, maka jalan satu-satunya adalah menghidupkan sunnah.
Baca Juga: 7 Dialog Ayah dan Anak dalam Al-Quran
Kelima memiliki dua sisi mata uang yang indah: di hadapan sesama mukmin, ia bagaikan malaikat yang lembut dan rendah hati. Namun di hadapan musuh-musuh agama yang memusuhi, ia tegas bagaikan singa.
Allah berfirman:
"maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir." (QS. Al-Maidah: 54)
Sifat tawadhu' (rendah hati) ini adalah perekat persaudaraan. Ketika seorang mukmin tidak sombong dengan hartanya, tidak tinggi hati dengan ilmunya, maka harmoni masyarakat akan tercipta.
Ia tidak mudah tersinggung, tidak suka menggunjing, dan selalu mendahulukan saudaranya.
Golongan terakhir dalam daftar ini adalah dua jenis manusia yang sering diremehkan: At-Tawwabun (yang banyak bertaubat) dan Al-Mutathahhirun (yang selalu bersuci).
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan orang-orang yang selalu bersuci." (QS. Al-Baqarah: 222)
Perhatikan kata At-Tawwabun (banyak bertaubat) menggunakan bentuk mubalaghah. Bukan sekadar taubat sekali, tetapi berkali-kali.
Karena manusia tempatnya salah dan lupa, maka pintu taubat selalu terbuka. Allah tidak bosan memberi ampunan, asalkan kita tidak bosan meminta ampun.
Kriteria ketujuh yang tidak kalah agung adalah Al-Mutawakkilun—orang-orang yang bertawakal kepada Allah. Tawakal bukanlah pasrah tanpa usaha. Justru sebaliknya: tawakal adalah puncak dari ikhtiar.
Ia adalah ketenangan hati setelah kita mengikat unta (berusaha maksimal), kemudian melepas segalanya kepada Allah dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada yang memberi hasil kecuali Dia.
Ia tidak gelisah jika hasil belum tampak. Ia tidak cemas jika rezeki terasa lambat. Karena ia yakin dan bertekad, Allah adalah sebaik-baik perencana.
Allah berfirman:
"Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali Imran: 159)
Adapun bersuci, mencakup kebersihan fisik (wudhu, mandi, pakaian) dan kebersihan hati dari iri, dengki, dan sombong. Kombinasi keduanya menghasilkan pribadi yang menawan di mata Allah.
Baca Juga: Apa Itu Makna Tawakal, ini Dalil dan Penjelasannya
Sebagai penutup yang manis, mari kita renungkan sabda Rasulullah ﷺ tentang Cinta kepada Allah SWT. yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:
"Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah, (3) ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)
Cobalah rasakan manisnya iman itu. Ia lebih lezat dari madu, lebih menenangkan dari air dingin di saat dahaga. Raih cinta Allah dengan bertakwa, berbuat baik, bersabar, mengikuti Rasul, rendah hati, serta terus bertaubat dan bersuci. Karena pada akhirnya, hanya cinta-Nyalah yang abadi. Wallahu a'lam.
Baca Juga: 4 Macam Hati dalam Al-Qur’an, Cermin Jiwa Manusia

.png)