Heri Abu Mahbubi
Ketahui 9 kewajiban kepada Rasulullah ﷺ, mulai dari beriman, mencintai, memuliakan, membela, mengikuti sunnah, hingga mewarisi risalah Nabi Muhammad ﷺ. Apa saja detail kewajiban kita berdasar dalil Quran, Sunnah juga sirah nabawiyyah. yuk pelajari!

Quran Cordoba - Beriman kepada Rasulullah bukan sekadar meyakini bahwa beliau adalah utusan Allah. Keimanan kepada Nabi Muhammad ﷺ memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam sikap, ucapan, dan perbuatan sehari-hari.
Allah SWT mengutus Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan wahyu, menjelaskan Al-Qur’an, memberikan teladan, serta membimbing manusia menuju jalan yang diridai-Nya.
Karena itu wajib belajar sirah nabawiyyah, mencintai dan menaatinya merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman.
Allah SWT berfirman:
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan...” (QS. An-Nisa: 65)
Dengan demikian, iman kepada Rasulullah ﷺ melahirkan sejumlah kewajiban. Apa saja kewajiban kepada Rasul yang perlu diketahui seorang Muslim?
Kewajiban pertama adalah al-imanu bihi, yaitu beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan keyakinan yang benar dan tidak disertai keraguan.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu...” (QS. Al-Hujurat: 15)
Iman kepada Muhammad Rasulullah berarti meyakini bahwa beliau benar-benar utusan Allah, membenarkan seluruh berita yang beliau sampaikan, serta menerima petunjuk yang dibawanya.
Keimanan tersebut tidak berhenti pada pengakuan lisan. Ia harus melahirkan ketaatan dan ketundukan kepada ajaran yang dibawa Rasulullah ﷺ.
Kewajiban berikutnya adalah mahabbah, yaitu mencintai Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar mengungkapkan kecintaan melalui kata-kata. Kecintaan tersebut dibuktikan dengan mengikuti ajarannya, menghormati sunnahnya, memperbanyak shalawat, dan berusaha meneladani akhlaknya.
Karena itu, orang tua memiliki peran penting mengenalkan Nabi Muhammad kepada anak sejak dini. Anak perlu mengetahui siapa nabinya, bagaimana perjuangannya, bagaimana akhlaknya, dan mengapa seorang Muslim mencintai beliau.
Kewajiban ketiga adalah ta'dzim, yaitu memuliakan Rasulullah ﷺ.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya...” (QS. Al-Hujurat: 1)
Ayat berikutnya juga mengajarkan agar kaum Muslimin menjaga adab ketika berbicara di hadapan Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan pentingnya memuliakan beliau.
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, bentuk penghormatan kepada beliau diwujudkan dengan menjaga adab terhadap hadis, sunnah, dan ajaran yang sahih dari beliau.
Memuliakan Rasulullah ﷺ juga berarti tidak menempatkan pendapat manusia di atas petunjuk yang telah beliau sampaikan. Ketika sebuah sunnah telah jelas dan sahih, seorang Muslim hendaknya menerimanya dengan sikap hormat dan tunduk.
Kewajiban berikutnya adalah ad-difa' yaitu membela Rasulullah ﷺ, risalah yang beliau bawa, serta sunnahnya.
Membela Nabi Muhammad tidak berarti melakukan tindakan yang melanggar syariat. Pembelaan dapat diwujudkan dengan menjelaskan ajaran Islam secara benar, menasihati berbasis hadisnya, memperkenalkan akhlaknya, dan berdakwah dengan ilmu serta cara yang baik.
Allah SWT berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Karena itu, ketika muncul informasi yang tidak benar tentang Rasulullah ﷺ, seorang Muslim hendaknya tidak terburu-buru bereaksi secara emosional. Pengetahuan, akhlak, argumentasi yang benar, dan cara yang bijaksana merupakan bagian dari pembelaan terhadap risalah beliau.
Kewajiban selanjutnya adalah mahabbah man ahabbahu, yaitu mencintai orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ, terutama keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang beriman yang mengikuti petunjuknya.
Allah SWT menggambarkan generasi para sahabat:
“Muhammad adalah utusan Allah; dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka...” (QS. Al-Fath: 29)
Ayat ini menunjukkan adanya hubungan kasih sayang di antara orang-orang yang beriman.
Mencintai Rasulullah ﷺ semestinya membuat seorang Muslim semakin menyayangi sesama Muslim, bukan mudah merendahkan atau mencela saudaranya. Kecintaan kepada Nabi juga tercermin dalam akhlak sosial: saling menolong, menghormati, memaafkan, dan menjaga persaudaraan.
Baca Juga: Mempelajari Sirah Nabawiyyah Bukti Cinta kepada Rasulullah ﷺ
Kewajiban kepada Rasulullah ﷺ berikutnya adalah ihya'u sunnah, yaitu menghidupkan sunnah beliau.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Ibnu Majah)
Sunnah Rasulullah ﷺ mencakup petunjuk dalam ibadah, akhlak, muamalah, keluarga, dan berbagai aspek kehidupan.
Namun, perlu dibedakan antara sunnah dalam pengertian umum sebagai ajaran Nabi dan istilah “sunnah” dalam hukum fikih yang terkadang digunakan untuk amalan yang tidak wajib. Sebagian ajaran Rasulullah ﷺ justru memiliki hukum wajib untuk diikuti.
Karena itu, menghidupkan sunnah bukan sekadar mengikuti kebiasaan yang bersifat tambahan, tetapi juga menjalankan petunjuk Rasulullah ﷺ yang memang menjadi kewajiban seorang Muslim.
Kewajiban berikutnya adalah iktsaru ash-shalati 'alaihi, yaitu memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Ayat tersebut merupakan perintah yang sangat jelas kepada orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)
Maka, sudahkah kita menyediakan waktu setiap hari untuk memperbanyak shalawat?
Shalawat dapat menjadi amalan sederhana yang menghubungkan hati seorang Muslim dengan Rasulullah ﷺ. Di tengah kesibukan, memperbanyak shalawat dapat dilakukan ketika berjalan, berkendara, setelah salat, atau pada waktu-waktu lainnya.
Kewajiban berikutnya adalah ittiba'u manhajihi, yaitu mengikuti jalan dan petunjuk Rasulullah ﷺ.
Secara bahasa, manhaj bermakna jalan yang jelas atau jalan yang ditempuh. Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan umatnya tanpa petunjuk. Beliau telah menjelaskan jalan kebaikan melalui Al-Qur'an dan sunnahnya.
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini menjadi dasar penting bahwa kehidupan Rasulullah ﷺ merupakan teladan bagi umat Islam.
Mengikuti Rasulullah ﷺ berarti berusaha menempatkan Al-Qur'an dan sunnah sebagai pedoman, sekaligus memahami keduanya dengan ilmu dan mengikuti penjelasan ulama yang kredibel.
Kewajiban terakhir adalah wiratsatu risalatihi, yaitu mengambil bagian dalam meneruskan risalah yang dibawa Rasulullah ﷺ.
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba: 28)
Islam memiliki risalah yang ditujukan kepada seluruh manusia. Karena itu, setelah Rasulullah ﷺ wafat, umatnya memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan ajaran Islam sesuai kemampuan dan dengan cara yang benar.
Allah SWT juga berfirman:
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”
(QS. Ash-Shaff: 9)
Baca Juga: 5 Syafaat Nabi Muhammad ﷺ di Hari Kiamat
Mewarisi risalah bukan berarti setiap orang harus menjadi Ulama, Ustadz, atau dai profesional. Setiap Muslim dapat mengambil peran sesuai ilmu dan kemampuannya: mengajarkan Al-Qur'an kepada keluarga, mendidik anak dengan akhlak Nabi, berbagi ilmu yang benar, membantu dakwah Islam, atau menjadi teladan dalam kehidupan.
Dalam perjalanan dakwah, ajaran Islam tentu menghadapi berbagai tantangan dan penolakan. Karena itu, mewarisi risalah Rasulullah ﷺ juga berarti memiliki kesiapan untuk menghadapi tantangan tersebut dengan kesabaran, ilmu, akhlak, dan keteguhan dalam kebenaran.
Wallahu a'lam bish-shawab.

