Heri Abu Mahbubi
Buktikan cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekedar di lisan, juga membaca sirah nabawiyyah, pelajari sejarahnya, memuliakan ajarannya, mencontoh akhlak dan perjuangannya. Meneguhkan cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ sampai akhir hidup kita, rindu dan banyak shalawat menjadi bukti kita pengikut setianya.

Quran Cordoba - Cinta kepada Rasulullah Saw. adalah embun yang menyejukkan dahaga jiwa di tengah gersangnya kehidupan dunia. Ia bukanlah sekadar kata-kata manis yang diucapkan oleh bibir, melainkan getaran bukti cinta dan kerinduan di dalam dada.
Cinta kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ adalah asas keimanan, yang tanpanya iman seseorang akan hampa dan kehilangan cahayanya, mempelajari sirah nabawiyyah menjadi bukti, membaca perjalanan hidupnya secara lengkap.
Cinta kepada Rasulullah ﷺ dalam sirah nabawiyyah adalah wujud keteladanan, bukti pengorbanan, dan ketaatan totalitas yang bermula dari mengenal pribadi dan akhlak mulia Nabi melalui sejarah hidupnya.
Rasulullah Saw. adalah manusia pilihan yang diutus Allah Swt. sebagai rahmat bagi seluruh alam. Mencintainya bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang melekat dalam keimanan. Bahkan, cinta kepada Rasulullah merupakan fondasi keimanan.
Allah Swt. menegaskan dalam kalam-Nya yang agung:
“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.’” (QS. At-Taubah: 24)
Ayat ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam agar menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya sebagai prioritas utama di atas segala kecintaan duniawi. Ini adalah ujian keimanan yang sesungguhnya.
Mampukah kita mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada keluarga, harta, dan kesenangan dunia?
Tak kenal maka tak sayang, perlu kita mengenal Rasulullah lebih mendalam agar cinta makin kuat. Seperti mengenal keluarga atau anak kita sendiri. Maka perlu membaca sirah Nabawiyyah yang lengkap seperti dari buku Ar-Rahiqul Makhtum karya syekh Al-Mubarakfuri.
Rasulullah Saw. bersabda untuk menuntun kita menyelami indahnya rasa cinta tersebut:
“Tiga hal yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa merasakan manisnya iman bukanlah hal yang mustahil. Ia dapat diraih ketika kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya mengalahkan segala kecintaan kepada makhluk dan gemerlap dunia.
Ulama bahkan menyatakan bahwa cinta kepada Rasulullah termasuk kewajiban terbesar dalam agama, banyak bershalawat, menyebut namanya.
Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw. bersabda:
“Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian, sehingga aku lebih ia cintai daripada orangtuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mari sejenak belajar dari sirah nabawiyah, kisah para sahabatnya yang membuktikan cintanya kepada Sang Nabi. Bukan sekadar cinta biasa, melainkan pengorbanan jiwa dan raga.
Lihatlah bagaimana Bilal bin Rabah, muadzin kesayangan Rasulullah, merindukan kematian demi sebuah pertemuan. Saat sakaratul maut menjemput Bilal, istrinya menangis dan bersedih mendalam. Namun, Bilal justru tersenyum bahagia seraya berkata:
“Jangan menangis! Besok kita akan bersukacita, besok aku akan bertemu dengan kekasih-kekasihku: Muhammad dan para sahabatnya!” (Siyar A‘lam an-Nubala’, 1/359)
Bagi Bilal, kematian bukanlah hal yang menakutkan, melainkan pintu gerbang kerinduan untuk kembali bersua dengan Baginda Nabi Saw. Bahkan setelah Rasulullah wafat, Bilal memutuskan untuk tidak lagi mengumandangkan azan karena baginya, “Biarkan aku hanya menjadi muazinnya Rasulullah”.
Kerinduannya begitu dalam hingga Rasulullah datang dalam mimpinya dan menegur, “Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku?”. Bilal pun segera bergegas ke Madinah, menangis di pusara Rasulullah, melepas rindu yang tak terkira.
Begitu pula dengan Tsauban Ra. Suatu hari ia datang kepada Nabi dengan wajah pucat dan tubuh yang kurus. Ketika Nabi bertanya apakah ia sakit, Tsauban menjawab bahwa ia tidak sakit, melainkan selalu gelisah dan menangis setiap kali merindukan Nabi. Ia berkata:
“Jika di dunia aku tidak melihatmu, jiwaku terasa hampa. Lalu aku teringat akhirat; engkau tentu ditinggikan derajatnya bersama para Nabi, sedangkan jika aku masuk surga, kedudukanku jauh di bawahmu dan aku takut tidak bisa melihatmu lagi.” (Tafsir al-Baghawi, 1/659)
Mendengar kerinduan Tsauban yang begitu mendalam, Allah Swt. menurunkan firman-Nya sebagai jawaban dan kabar gembira:
“Dan siapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)
Ayat ini menjadi penawar bagi hati para pecinta Rasulullah — bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya akan mengantarkan pada kebersamaan dengan orang-orang mulia di surga.
Tengoklah pula bagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra. menahan sakitnya patukan ular di kakinya. Di tengah kepedihan dan rasa sakit luar biasa saat berada di Gua Tsur, ia tetap bergeming dalam diam demi menjaga Rasulullah Saw. yang sedang tertidur di pangkuannya.
Ia menahan semua itu demi keselamatan sang kekasih Allah. Lantas, sudah sejauh mana pengorbanan cinta kita untuk menjalankan ajaran dan sunnah-sunnah beliau?
Baca Juga: 5 Ilmu Nubuwah Muhammad ﷺ: Memahami Keagungan Rasulullah
Cinta bukan hanya ucapan, tetapi bagaimana hati terikat dan mengikuti yang dicintai. Mari kita renungkan sejena.
Mencintai Nabi Muhammad ﷺ berarti mengagungkan beliau dengan mengenalnya. Kita tidak akan mencintai seseorang yang tidak kita kenal. Karena itu, mempelajari sirah Nabi ﷺ menjadi langkah penting.
Dari sejarahnya, perjalanannya, perjuangannya, kita mengetahui bagaimana akhlaknya, keluarganya, kesabarannya, ketegasannya, serta kasih sayangnya terhadap umat.
Dengan mengenal beliau, cinta itu akan tumbuh, hormat, memuliakannya, dan keinginan untuk meneladaninya muncul.
Orang yang mengidolakan tokoh dunia saja rela mengikuti dan menirunya dalam banyak hal. Maka, sirah Nabi ﷺ yang jauh lebih mulia tentu lebih layak di agungkan, dengan cara mempelajari kisahnya akan menghidupkan teladannya dalam kehidupan sehari-hari.
Allah ﷻ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( QS Al-Ḥujurāt [49]: 1)
Baca Juga: 1500 Tahun Cahaya Nabi Muhammad ﷺ : Jejak Terang
Mari buktikan cinta kepada Nabi ﷺ bukan sekedar di lisan, juga mempelajari sirah nabawiyyah, membaca sejarahnya, memuliakan ajarannya, mencontoh akhlak dan perjuangannya.
Semoga Allah ﷻ meneguhkan cinta kepada Rasulullah ﷺ sampai akhir hidup kita dan menjadikan generasi kita sebagai umat yang setia, ittiba (mengikuti) jejaknya. Amin
Baca Juga: 5 Syafaat Nabi Muhammad ﷺ di Hari Kiamat
Allāhu a‘lam bishawāb.

.jpg)