Heri Mahbub
Buku Food & Life Balancing ala Nabi bukanlah buku biasa yang hanya dibaca lalu lupa. Ini buku undangan untuk kembali kepada fitrah—mengembalikan makanan pada fungsinya yang hakiki: sebagai sarana beribadah, bukan sekadar pemuas nafsu.
.png)
Quran Cordoba - Di tengah hiruk-pikuk industri kesehatan modern yang menawarkan ribuan jenis diet—paleo, keto, intermittent fasting,vegan, hingga carnivore—umat Islam seringkali berada dalam kebingungan. Mana yang benar? Mana yang sesuai dengan fitrah?
Lebih dari sekadar tren, pola makan telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan dengan janji-janji instan: turun berat badan dalam seminggu, tubuh ideal tanpa olahraga, atau detoksifikasi dalam 24jam.
Namun, pernahkah kita bertanya: di mana posisi ajaran Nabi dalam semua ini?
Pertanyaan itulah yang coba dijawab dengan brilian oleh sebuah buku yang sudah launching pada acara World Quran Hour Maret 2026 di bulan Ramadan oleh Penerbit Cordoba Books.
Buku ini hadir sebagai oase di tengah gurun informasi kesehatan yang kering akan nilai spiritual.
Ditulis oleh Dr. dr. Agus Rahmadi, M. Biomed.,M.A., M.Si., M.A.R.S.—seorang dokter sekaligus akademisi dengan segudang gelar—dan Yudril Basith, M.A., buku setebal ±176 halaman (ukuran 14,8 × 21 cm) ini menawarkan perspektif utuh tentang bagaimana Islam memandang makanan dan gaya hidup secara proporsional, aplikatif, dan tentu saja, penuh berkah.
Di era di mana gaya hidup sehat seringkali dipisahkan dari nilai-nilai spiritual, Food & Life Balancing ala Nabi hadir sebagai penjembatan. Buku ini tidak sekadar membahas makanan halal dan haram—yang sudah banyak ditulis—tetapi menggali lebih dalam konsep halalan thayyiban sebagai fondasi utama dalam menata pola makan dan kehidupan.
Konsep thayyib (baik) seringkali hanya dipahami secara fisik: makanan bergizi, bersih, dan menyehatkan. Padahal, dalam perspektif Islam, thayyib juga mencakup dimensi nonfisik: cara memperolehnya, niat saat mengonsumsinya, hingga dampaknya terhadap kualitas ibadah.
Buku ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa apa yang masuk ke dalam tubuh tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga ketenangan jiwa dan bahkan kualitas hubungan kita dengan Allah SWT.
Pembukaan buku ini langsung mengajak pembaca merenung: mengapa di tengah kemajuan teknologi kedokteran, justru penyakit-penyakit degeneratif semakin meningkat? Jawabannya sederhana—kita telah kehilangan keseimbangan. Pola makan modern yang serba instan, tinggi gula, dan minim kesadaran telah menjauhkan manusia dari fitrahnya.
Dengan bahasa yang lugas namun elegan, penulis memaparkan bagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW—seperti kesederhanaan makan, pengaturan waktu konsumsi, pemilihan bahan alami, hingga puasa—tidak hanya sekadar ajaran normatif. Semua itu memiliki dasar ilmiah yang kini baru terungkap oleh penelitian kedokteran modern.
Salah satu bab yang paling menarik adalah pembahasan mendalam tentang konsep halaalan thayyiban. Penulis mengkritik fenomena di mana umat Islam hanya fokus pada status halal suatu makanan, tetapi abai terhadap aspek thayyib-nya. Padahal, Allah SWTberfirman:
"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dariapa yang terdapat di bumi..." (QS. Al-Baqarah: 168)
Ayat ini, mengandung dua perintah sekaligus: halal (secara syariat) dan thayyib (secara kualitas). Makanan yang halal secara hukum tetapi tidak thayyib—misalnya junk food yang merusak tubuh—sejatinya belum memenuhi tuntunan Al-Qur'an secara utuh.
Di sinilah letak keistimewaan buku ini. Penulis dengan berani membedah berbagai macam diet populer—dari diet keto, paleo, vegan, hingga intermittent fasting—lalu mengukurnya dengan timbangan syariat dan ilmu kesehatan.
Apakah semua diet itu haram? Tentu tidak. Namun, penulis mengingatkan bahwa tidak semua yang populer secara medis otomatis sesuai dengan fitrah manusia. Ada diet yang mungkin efektif menurunkan berat badan, tetapi justru menjauhkan kita dari sunnah. Ada pula diet yang tampak "sehat" secara fisik, tetapi mengabaikan aspek spiritual yang justru menjadi inti kebahagiaan manusia.
Bagian ini adalah "dapur" dari buku ini—sekitar 50 resep yang dirancang khusus berdasarkan tuntunan Nabi dan pendekatan medis modern. Yang menarik, resep-resep ini tidak sekadar daftar bahan dan cara memasak, tetapi juga dilengkapi penjelasan tentang khasiat medisnya serta nilai spiritual di balik penggunaannya.
Misalnya, resep Talbinah (sup jelai) yang dianjurkan Nabi untuk kesembuhan penyakit, dijelaskan secara ilmiah kandungan nutrisinya serta mekanismenya dalam memulihkan kesehatan. Ada pula resep Habbatus Saudah dengan berbagai variasinya, madu kurma, hingga olahan za'faran untuk kesehatan mental.
Yang membuatnya istimewa, setiap resep dikaitkan dengan kondisi penyakit tertentu—mulai dari diabetes, hipertensi, gangguan pencernaan, hingga masalah kesuburan. Pendekatan ini menjadikan buku ini bukan sekadar bacaan, tetapi panduan praktis yang bisa langsung diaplikasikan di dapur rumah tangga muslim.
Food & Life Balancing ala Nabi bukanlah buku diet biasa yang hanya dibaca lalu dilupakan. Ia adalah undangan untuk kembali kepada fitrah—mengembalikan makanan pada fungsinya yang hakiki: sebagai sarana beribadah, bukan sekadar pemuas nafsu.
Dengan membaca buku ini, kita diajak memahami bahwa menjaga pola makan bukan sekadar ikhtiar duniawi, tetapi bagian dari amanah menjaga diri yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Setiap suapan yang masuk ke mulut, jika diniatkan dengan benar dan dipilih sesuai tuntunan, bisa bernilai ibadah.
Selamat, Dr. Agus Rahmadi dan Yudril Basith, atas lahirnya karya yang sangat dibutuhkan umat ini. Semoga setiap huruf yang tertulis, setiap resep yang dibagikan, menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Allaahumma aamiin.
Tersedia disini, di toko buku Islam atau marketplace.
.jpeg)
.png)