Artikel

Hadis-Hadis tentang Hijrah: Landasan Perubahan Spiritual yang Mendalam

Heri Abu Mahbubi

June 15, 2026

Hijrah membawa perubahan fundamental bagi umat Islam. Di Madinah, Nabi ﷺ berhasil membangun masyarakat yang beragam, ada yahudi, pendatang muhajirin, penduduk asli. Dari piagam Madinah, Islam berkembang pesat dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Pelajari hadis-hadis tentang Hijrah berikut ini.

Landasan Hadis-Hadis tentang Hijrah

Quran Cordoba - Selain ayat-ayat Al-Quran tentang hijrah, hadis-hadis Nabi ﷺ juga memberikan pencerahan luar biasa tentang makna hijrah, diantaranya:

1. Hadis Niat: Ikhlas sebagai Ruh Hijrah

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Umar bin Khattab menjadi fondasi utama:

فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

"Barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena kepentingan dunia atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai dengan apa yang diniatkannya." (HR. Bukhari)

Hadis ini mengajarkan bahwa nilai sebuah hijrah—dan semua amal—ditentukan oleh niat yang melandasinya. Hijrah yang dilakukan karena Allah akan membuahkan pahala surgawi, sementara hijrah yang dilakukan karena motivasi duniawi hanya akan menghasilkan apa yang diniatkan.

Syaikh Ibn Ataillah dalam Al-Hikam menegaskan bahwa hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya menuntut seseorang untuk memurnikan hati hanya untuk Allah.

2. Hijrah Hati: Meninggalkan Larangan Allah

Sebagaimana telah dikutip di awal, Rasulullah ﷺ bersabda:

المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ,و المهاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نهَى اللهُ عَنْهُ

"Seorang muslim adalah yang menjaga muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Sedangkan orang yang berhijrah adalah yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya." (HR. Bukhari)

Hadis ini menggeser pemahaman hijrah dari sekadar fisik menuju dimensi maknawi yaitu moral-spiritual. Menjadi muhajir sejati berarti berani meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, sekecil apa pun.

3. Hijrah Setelah Fathul Makkah: Konsep yang Berkelanjutan

Rasulullah ﷺ bersabda:

 لا هِجْرَةَ بَعْدَ الفَتْحِ ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فانْفِرُوا

"Tidak ada hijrah (dari Makkah ke Madinah) setelah kemenangan kota Makkah, yang ada jihad dan niat. Karena itu, apabila kalian diperintahkan untuk berjihad, maka patuhilah." (HR. Bukhari)

Hadis ini sering disalahpahami sebagai penghentian total hijrah. Padahal, yang dimaksud adalah bentuk hijrah fisik spesifik dari Makkah ke Madinah telah berakhir setelah Makkah menjadi wilayah Islam.

Namun, esensi hijrah—berpindah dari keburukan menuju kebaikan—tetap berlaku hingga hari kiamat.

4. Pemuda yang Dilarang Hijrah Fisik: Prioritas Berbakti ke Orang Tua

Dalam sebuah riwayat yang penuh hikmah, seorang pemuda memohon izin kepada Nabi ﷺ untuk ikut berhijrah. Namun, ketika ditanya alasannya, pemuda itu mengakui bahwa ia membuat kedua orang tuanya menangis karena kepergiannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

ارْجِعْ عَلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا

"Kembalilah kepada orang tuamu, dan buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis." (HR. Bukhari)

Kisah ini mengajarkan bahwa hijrah—meskipun mulia—tidak boleh mengorbankan kewajiban berbakti kepada orang tua, kecuali jika mereka menyuruh kepada kemaksiatan.

Sejarah Hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah

Hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M merupakan titik balik paling signifikan dalam sejarah Islam. Peristiwa ini tidak hanya mengubah arah dakwah Islam, tetapi juga menjadi awal dari sistem penanggalan Islam (kalender Hijriyah) yang kita gunakan hingga hari ini.

Dalam hadits riwayat Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

« رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أُهَاجِرُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى أَرْضٍ بِهَا نَخْلٌ فَذَهَبَ وَهَلِي إِلَى أَنَّهَا الْيَمَامَةُ أَوْ هَجَرُ فَإِذَا هِيَ الْمَدِينَةُ »

Aku melihat dalam mimpi kalau diriku berhijrah dari Makah menuju sebuah negeri yang banyak pohon kurmanya. Maka aku pergi dan saya kira negeri itu ialah Yamamah, namun ternyata dia adalah Madinah“. [HR Bukhari]

Setelah 13 tahun berdakwah di Makkah, tekanan kaum Quraisy terhadap Nabi ﷺ dan para pengikutnya semakin meningkat, terutama setelah wafatnya dua pelindung utama beliau: Abu Thalib (paman sekaligus pelindung) dan Siti Khadijah (istri tercinta) pada tahun 619 M yang dikenal sebagai "Tahun Kesedihan" ('Amul Huzn).

Dalam situasi yang semakin sulit itu, Allah ﷻ mengizinkan Nabi ﷺ untuk hijrah. Sebelumnya, beliau telah melakukan perjanjian dengan penduduk Yatsrib (Madinah) melalui Bai'at Aqabah I dan II, di mana mereka berjanji untuk melindungi dan membela Nabi ﷺ.

Perjalanan Hijrah yang Penuh Tantangan

Proses hijrah dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan berpencar untuk menghindari pengawasan Quraisy. Nabi ﷺ sendiri berangkat berdua bersama sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, pada tanggal 27 Shafar tahun ke-14 kenabian.

Mereka memilih jalan yang tidak biasa, bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari, dan menggunakan berbagai taktik untuk mengelabui pengejar.

Setelah perjalanan yang panjang dan penuh risiko, Nabi ﷺ tiba di Quba, sebuah desa di pinggiran Madinah, pada tanggal 12 Rabiul Awal. Di sana, beliau membangun Masjid Quba—masjid pertama dalam sejarah Islam.

Dari Quba, beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah, disambut dengan gegap gempita oleh penduduknya yang menanti-nanti kedatangan "Rasulullah yang dijanjikan".

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, penuh tantangan, Abu Bakar yang bersama dalam perjalanan tersebut berkata:

قال أبو بكر: « كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْغَارِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِأَقْدَامِ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ لَوْ أَنَّ بَعْضَهُمْ طَأْطَأَ بَصَرَهُ رَآنَا قَالَ اسْكُتْ يَا أَبَا بَكْرٍ اثْنَانِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا » 

Abu Bakar Asy-Syiddiq: “Aku berada di sisi Nabi Muhammmad Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam gua (thur), lalu saat aku menengadahkan kepalaku, aku dapati kaki-kaki mereka [kafir Quraisy] tepat diatas(ku). Lantas aku berkata, “Wahai Rasulallah, Andaikan salah seorang dari mereka menoleh ke bawah pasti dia dapat melihat kita”. Beliau berkata: “Diamlah, wahai Abu Bakar! Kita (memang) berdua tapi Allah lah pihak ketiganya“. [HR Bukhari. Muslim]

2 Jenis Hijrah: Dari Fisik hingga Hati

Para ulama membagi hijrah menjadi dua kategori besar:

Pertama, Hijrah Makaniyah (Hijrah Tempat), yaitu berpindah dari wilayah yang menghalangi pelaksanaan agama ke wilayah yang lebih aman untuk beribadah. Inilah yang dilakukan Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat dari Makkah ke Madinah, serta hijrahnya sebagian sahabat ke Habasyah (Ethiopia) sebelumnya.

Kedua, Hijrah Maknawiyah (Hijrah Hati), yaitu berpindah dari maksiat menuju ketaatan, dari sifat tercela menuju akhlak terpuji. Hijrah jenis ini tidak pernah berhenti hingga ajal menjemput, karena setiap muslim senantiasa dituntut untuk terus memperbaiki diri.

Bahkan dalam konteks kehidupan modern, hijrah dapat pula berarti perubahan gaya hidup yang lebih selaras dengan nilai-nilai Islam: dari pola pergaulan yang bebas menuju pergaulan yang sehat, dari hiburan yang melalaikan menuju aktivitas yang bermanfaat, dari cara mencari rezeki yang haram menuju yang halal.

Baca Juga: Makna Hijrah dalam Al-Quran

Dampak Hijrah bagi Peradaban Islam

Hijrah membawa transformasi fundamental bagi umat Islam. Di Madinah, Nabi ﷺ berhasil membangun masyarakat yang beragam latar belakang, ada yahudi juga pendatang.

Berdasarkan Piagam Madinah, semua bersatu, mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang dari Makkah) dan Anshar (penduduk asli Madinah), serta mendirikan negara-kota yang menjadi cikal bakal peradaban Islam.

Dari sinilah Islam kemudian berkembang pesat dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Wallahu'alam bishawab

Baca Juga

Hadis-Hadis tentang Hijrah: Landasan Perubahan Spiritual yang Mendalam

Heri Abu Mahbubi
June 15, 2026
Hijrah membawa perubahan fundamental bagi umat Islam. Di Madinah, Nabi ﷺ berhasil membangun masyarakat yang beragam, ada yahudi, pendatang muhajirin, penduduk asli. Dari piagam Madinah, Islam berkembang pesat dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Pelajari hadis-hadis tentang Hijrah berikut ini.
Selengkapnya

Makna Hijrah dalam Al-Quran: Dalil, Perpindahan dan Hakikatnya

Heri Abu Mahbubi
June 15, 2026
Bulan Muharram datang, tahun baru hijriyah bukanlah peristiwa usang. Ia adalah konsep hidup yang terus berdenyut di peradaban Islam. Muslim perlu untuk hijrah secara maknawi, terkadang tempat, sebagaimana hijrah dalam Al-Quran di banyak ayatnya. Baca selengkapnya!
Selengkapnya
Official Store
tokopedia-cordoba
Follow Us
Kantor Pusat
Jl. Sukajadi no. 215 Gegerkalong, Kec. Sukasari, Kota Bandung,
‍Tlp : (022) 2008 776
Kantor Pemasaran Jakarta
Jalan Raya Kodau Kavling P&k No.174 Jatimekar - Jatiasih Bekasi 17422
Tlp : (021) 84981836
Kantor Pemasaran Surabaya
Jl. Ketintang Madya II No. 5, Kel. Karah , Kec Jambangan Kota Surabaya - Jawa Timur 60232
WA : +62 852-1719-4370
qurancordoba.com - Copyright 2021