Heri Abu Mahbubi
Bulan Muharram datang, tahun baru hijriyah bukanlah peristiwa usang. Ia adalah konsep hidup yang terus berdenyut di peradaban Islam. Muslim perlu untuk hijrah secara maknawi, terkadang tempat, sebagaimana hijrah dalam Al-Quran di banyak ayatnya. Baca selengkapnya!

Quran Cordoba - Setiap tahun, saat bulan Muharram tiba, umat Islam di seluruh dunia memperingati sebuah peristiwa monumental yang tidak hanya mengubah peta peradaban Jazirah Arab, tetapi juga menjadi fondasi Islam di awal kebangkitan: hijrah.
Namun, seringkali kita memaknai hijrah secara sempit—sekadar perpindahan Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda Rasulullah ﷺ, hijrah memiliki makna yang jauh lebih luas, lebih dalam, dan sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.
Hijrah dalam Al-Quran bukan sekadar pindah atau mengganti tempat. Ia adalah perjalanan hati, transformasi jiwa, dan keberanian untuk meninggalkan segala sesuatu yang tidak diridhai Allah menuju kehidupan yang lebih baik.
Mari kita telusuri bersama, bagaimana Al-Qur’an dan hadis membingkai hijrah sebagai sebuah konsep yang agung, sekaligus sebagai panggilan abadi bagi setiap muslim di setiap zaman.
Secara bahasa, kata hijrah berasal dari akar kata ha-ja-ra (هجر) yang berarti meninggalkan, memutuskan hubungan, atau berpindah dari satu kondisi ke kondisi lain. Imam Ar-Raghib Al-Asfahani mendefinisikan hijrah sebagai tindakan meninggalkan sesuatu—baik secara fisik, ucapan, maupun hati.
Dalam pengertian yang lebih dalam, hijrah adalah mufaraqah: berpisah dari sesuatu menuju sesuatu yang lain, dengan harapan mendapatkan keridhaan Allah.
Dalam terminologi syariat, hijrah dimaknai sebagai perpindahan dari negeri orang-orang zalim ke negeri yang aman, demi menyelamatkan agama dan diri dari tekanan.
Namun, hijrah juga mencakup makna dimensi batiniah: meninggalkan maksiat menuju ketaatan, meninggalkan kelalaian menuju kesadaran, dan meninggalkan kebiasaan buruk menuju akhlak mulia. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
"Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa inti hijrah terletak pada keberanian meninggalkan dosa. Seseorang belum disebut sebagai muhajir sejati jika ia hanya berpindah tempat, namun masih membawa serta kebiasaan buruk dan maksiat dalam dirinya.
Al-Quran menyebut kata hijrah dan berbagai derivasinya dalam puluhan ayat. Para ulama menghimpun ayat yang secara eksplisit membahas tentang hijrah. Berikut adalah beberapa ayat kunci beserta tafsirnya:
Allah ﷻ berfirman:
"Siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Ayat ini menjadi patokan utama dalam pembahasan hijrah. Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk memberikan semangat kepada kaum muslimin yang ragu meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Allah menjanjikan muraghaman (tempat berlindung) yang luas dan sa'atan (kelapangan rezeki) bagi siapa pun yang berhijrah karena-Nya.
Tafsir Al-Jailani menambahkan bahwa ayat ini juga mencakup makna batiniah, berhijrah secara hati.
Allah ﷻ berfirman:
"Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui."
Ayat ini turun berkenaan dengan hijrahnya para sahabat yang meninggalkan Makkah setelah mengalami penganiayaan dari kaum Quraisy. Allah menjanjikan dua bentuk pahala sekaligus: hasanah fid-dunya (kebaikan di dunia) berupa ketenteraman dan kedudukan yang baik, serta pahala akhirat yang jauh lebih besar.
Allah ﷻ berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Ayat ini dengan indah merangkai tiga amal mulia: iman, hijrah, dan jihad. Dalam tafsirnya, ayat ini menjelaskan bahwa hijrahnya seseorang yang memiliki tujuan hanya untuk mencari ridha dan rahmat dari Allah, serta berjihad hanya mengharapkan ampunan dari Allah semata.
Allah ﷻ berfirman:
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan."
Ayat ini menegaskan bahwa hijrah itu bentuk jihad—perjuangan total dengan harta dan jiwa. Mereka yang beriman, kemudian berhijrah, lalu berjihad, akan memperoleh derajat tertinggi di sisi Allah dan meraih kemenangan sejati.
Allah ﷻ berfirman dalam tiga ayat beruntun di Surah Al-Anfal yang menjelaskan bahwa iman yang sejati dibuktikan dengan hijrah dan jihad di jalan Allah. Orang-orang yang beriman tetapi tidak berhijrah tidak memiliki ikatan kewarisan dengan orang-orang yang berhijrah, sampai mereka berhijrah juga.
"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfal, 8: 74)
Allah ﷻ berfirman:
"Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah."
Ayat ini merupakan puncak kemuliaan bagi para muhajirin dan anshar. Allah secara khusus menyebut mereka sebagai as-sabiqunal awwalun (yang terdahulu lagi pertama-tama), dan menjanjikan keridhaan-Nya serta surga yang kekal. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan hijrah dalam pandangan Allah.
Selain ayat-ayat di atas, hijrah juga disebutkan dalam sejumlah ayat lainnya, antara lain: QS. Ali Imran (3): 195, yang menjanjikan pengampunan dan surga bagi orang-orang yang berhijrah dan disakiti di jalan Allah;
QS. Al-Hasyr (59): 8-9, yang memuji para muhajirin yang diusir dari kampung halaman mereka dan kaum anshar yang mencintai para muhajirin; serta QS. Al-Mumtahanah (60): 10, yang mengatur tentang hijrahnya wanita-wanita mukmin.
Baca Juga: Hadis-Hadis tentang Hijrah
Hijrah adalah perubahan totalitas. Allah ﷻ telah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d (13): 11:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."
Hijrah adalah perubahan. perpindahan dari kegelapan menuju cahaya. Dan hijrah akan terus menjadi jalan bagi siapa pun yang mendambakan kehidupan yang lebih dekat dengan-Nya.
Mari kita renungkan: sudahkah kita hari ini berhijrah menuju versi terbaik dari diri kita? Jika belum, maka sekaranglah waktunya. Karena setiap detik yang berlalu adalah kesempatan untuk memulai hijrah baru menuju ridha Allah.

