Heri Abu Mahbubi
Hakikat Quranic Law of Attraction, doa menjadi prinsip utama setelah niat, bahkan janji Allah, permohonan kita pasti akan terkabul. Pelajari 2 prinsip dari 7 prinsip QLoA berikut sebagai refleksi dan afirmasi positif. Semua bersumber dari Al-Quran dan Hadis Nabi.
.png)
Quran Cordoba - Setiap manusia yang bernapas di muka bumi ini, tanpa sadar, adalah seorang penarik. Bukan penarik dalam arti fisik semata seperti tarik nafas, melainkan penarik realitas—sebuah konsep yang belakangan populer dengan sebutan Law of Attraction atau Hukum Ketertarikan di singkat LoA.
Gagasannya sederhana namun mengguncang kesadaran: pikiran dan perasaan seseorang memiliki daya tarik tersendiri terhadap apa yang ia alami dalam kehidupannya.
Energi positif akan memanggil hasil positif; energi negatif pun akan mengundang hal-hal yang serupa. Dalam Islam semua kembali dan dari Allah, inilah prinsip niat dan doa.
Bagi seorang Muslim yang seluruh hidupnya adalah ibadah dan pengabdian, pertanyaan bukan sekadar "bagaimana cara menarik hal-hal baik?", melainkan jauh lebih dalam: "Bagaimana konsep Quranic LoA selaras dengan ketauhidan kita kepada Allah, Zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu?"
Artikel ini hadir bukan untuk menggiring pembaca pada afirmasi kosong atau hanya refleksi duniawi. Lebih dari itu, inspirasi ini upaya merangkai tarik-menarik hal positif dengan mutiara hikmah Al-Qur'an dan Sunnah—sebuah harmoni yang mengajarkan bahwa menarik kebaikan bukanlah ilmu sihir, melainkan seni menyelaraskan hati, akal, dan tindakan di bawah naungan ridha Ilahi.
Hakikatnya Allah adalah Rabb yang menguasai hukum ketertarikan, dan mengabulkan semua permintaan di alam semesta.
Popularitas Law of Attraction meledak sejak kemunculan buku dan film dokumenter The Secret karya Rhonda Byrne pada tahun 2006. Secara ringkas, hukum ini berprinsip pada "like attracts like"—kesamaan menarik kesamaan.
Pikiran adalah energi dengan frekuensi tertentu. Ketika seseorang membayangkan impian dengan keyakinan mendalam dan emosi yang kuat, alam semesta konon akan merespons dengan menghadirkan orang, peristiwa, dan peluang yang sejalan dengan getaran bayangan tersebut.
Konsep ini sering dikaitkan dengan teori kuantum dan psikologi positif—dua bidang yang sama-sama menekankan peran keyakinan dan emosi dalam membentuk realitas seseorang. Dalam ranah psikologi, teori self-fulfilling prophecy menunjukkan bahwa ekspektasi seseorang terhadap sesuatu benar-benar dapat memengaruhi hasil akhirnya.
Sementara teori otak menunjukan manusia mampu berubah dan beradaptasi berdasarkan pola pikir serta kebiasaan yang diulang-ulang.
Namun, di sinilah letak titik krusial yang kerap terlewat oleh para pegiat pengembangan diri: Law of Attraction versi sekuler menempatkan manusia dan alam sebagai pusat dan penentu mutlak atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Manusia adalah "tuhan" bagi realitasnya sendiri.
Di sinilah benturan dengan iman mulai terasa.
Sebagian ulama dan cendekiawan Muslim menyatakan bahwa Law of Attraction adalah konsep spekulatif tanpa landasan dalil ilmiah yang kokoh, dan penerapannya pada ranah kemanusiaan merupakan analogi yang keliru.
Namun, jika kita menyaring esensinya—bukan kemasannya yang sarat dengan narasi "semesta sebagai aktor"—kita akan menemukan titik-temuan yang menakjubkan dengan ajaran Islam yang sempurna.
Perbedaan mendasar antara Law of Attraction sekuler dan perspektif Islam terletak pada sumber kekuasaan. Dalam konsep sekuler, manusialah penentu pencapaian hidup.
Dalam konsep Al-Qur'an, faktor penentu adalah Allah Swt. semata, sementara manusia berkewajiban untuk berikhtiar, niat yang benar dan berdoa. Itulah pentingnya hukum ketertarikan berbasiskan nilai wahyu Al-Quran prinsip niat dan doa.
Prinsip utama Quranic law of attraction.
Firman Allah dalam QS. Ar-Ra'd [13]: 11 menjadi fondasi yang paling sering dikutip:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
Ayat ini dengan fasih menegaskan bahwa perubahan dimulai dari dalam diri. Jiwa, pikiran, sikap, dan tindakan seseorang adalah pintu gerbang transformasi. Namun, ayat ini tidak berhenti di situ.
Dalam lanjutannya, Allah menyatakan bahwa Dia senantiasa mengawasi, dan tidak ada yang luput dari pengetahuan-Nya. Ini mengajarkan bahwa usaha manusia adalah sebab, tetapi Allah-lah pemilik segala akibat di akhirnya.
Lengkapnya surat Ar-Ra’d ayat 11 tersebut yaitu;
Artinya: “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Allah berfirman dalam QS. Ghafir [40]: 60:
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu."
Inilah "hukum ketertarikan" dalam versi Islami yang paling murni. Daripada "meminta" kepada alam semesta yang tak berdaya, seorang Muslim diperintahkan untuk memohon langsung kepada Zat yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.
Doa adalah ibadah inti, senjatanya orang beriman. Menjadi afirmasi tertinggi—sebuah pernyataan keyakinan dan refleksi bahwa hanya Allah-lah yang mampu mengubah takdir.
Baca Juga: Quranic Law of Attraction Berbasis 7 Prinsip
Dalam Quranic Law of Attraction, doa ini menjadi prinsip setelah niat, bahkan janji Allah, permintaan kita pasti akan dikabulkan.
Artinya “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” [QS. Ghafir [40]: 60]
Setiap ayat sebaiknya menjadi refleksi dan afirmasi yang terus diulang-ulang, seperti itulah doa terbaik dalam hukum ketertarikan.
Tafsir Ringkas Kemenag Ghafir ayat 60.
Allah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku dengan mendekatkan diri, niscaya akan Aku perkenankan bagimu apa yang kamu harapkan berupa hidayah dan anugerah nikmat. Sesungguhnya orang-orang yang angkuh dan sombong sehingga membuat mereka tidak mau menyembah-Ku, mereka akan masuk ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”
Bersambung ke prinsip selanjutnya...

Referensi:
Mushaf Quranic Law of Attraction, Penerbit Quran Cordoba
Quranic Law of Attraction, Rusdin S. Roud
Tafsir Ringkas Quran Kemenag
.png)
