Heri Mahbub
Selamat mudik dan pulang, selamat merajut hubungan, saling maaf memaafkan. Semoga setiap lelah perjalanan menjadi lillah, dan setiap pertemuan membawa berkah. Ramadan berakhir, semoga kita kembali ke fitri dan meraih kemenangan hakiki.
.jpeg)
Quran Cordoba - Di penghujung Ramadan, hiruk-pikuk kota mulai mereda. Stasiun, terminal, dan bandara mulai ramai oleh jutaan manusia yang bergerak dalam satu arah: pulang.
Mudik telah menjadi tradisi tahunan yang mengakar kuat di budaya kita. Namun di balik kepadatan jalan dan lelahnya perjalanan, ada makna yang jauh lebih dalam—sesuatu yang mungkin luput dari kesadaran kita.
Mudik bukan sekadar pulang kampung. Ia adalah panggilan jiwa yang mengingatkan bahwa kita adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang sering membuat kita sibuk dengan diri sendiri, tradisi ini menjadi momen berharga untuk kembali merajut hubungan yang mungkin mulai renggang.
Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya tentang bahaya prasangka buruk ini. Dalam sebuah hadis beliau bersabda dalam sahih Muslim:
"Jauhilah berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah mencari-cari isu: janganlah mencari-cari kesalahan: janganlah saling bersaing: janganlah saling mendengki: janganlah saling memarahi: dan janganlah saling membelakangi (memusuhi)! Tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara."
Hadis ini mengajarkan bahwa prasangka buruk adalah pangkal dari rusaknya hubungan. Ia seperti api yang membakar perlahan-lahan, tanpa disadari, hingga yang tersisa hanyalah abu penyesalan.
Mudik dan silaturahmi Lebaran menjadi momentum tepat untuk memadamkan api itu sebelum menjalar lebih luas.
Yang menarik, ajaran Islam tentang pentingnya menjaga hubungan baik ternyata selaras dengan temuan ilmu pengetahuan modern.
Penelitian dalam bidang psikologi kesehatan menunjukkan bahwa kualitas hubungan sosial seseorang berpengaruh signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental.
Uchino dan koleganya (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Encyclopedia of Mental Health menemukan bahwa dukungan sosial yang kuat berkorelasi dengan penurunan risiko berbagai penyakit kronis, peningkatan fungsi sistem imun, dan percepatan pemulihan dari sakit. Artinya, hubungan yang baik dengan keluarga dan sesama tidak hanya menenangkan hati, tetapi juga membuat tubuh lebih sehat.
Temuan ini Hasilnya menunjukkan bahwa individu dengan hubungan sosial yang kuat memiliki risiko kematian lebih rendah, kesehatan mental yang lebih baik, dan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi.
Subhanallah. Apa yang diajarkan Rasulullah 14 abad lalu kini terbukti secara ilmiah. Silaturahmi bukan sekadar ritual sosial, tetapi juga investasi kesehatan jangka panjang.
Pertanyaan ini sering muncul di benak kita. Apakah benar bersilaturahmi bisa memperpanjang umur? Bukankah ajal sudah ditentukan?
Dalam sebuah riwayat yang disampaikan Imam Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan)
Para ulama menjelaskan bahwa "dipanjangkan umurnya" di sini bisa dimaknai secara hakiki, yaitu Allah memberi keberkahan usia sehingga meskipun umurnya pendek secara hitungan tahun, tetapi manfaat dan kebaikan yang dihasilkan sangat banyak.
Bisa juga dimaknai bahwa orang tersebut dijaga oleh Allah sehingga kematiannya diakhirkan karena doa dan kebaikan yang mengalir dari silaturahmi yang ia jalin.
Lebaran adalah puncak hari raya setelah ibadah Ramadan. Sebulan berpuasa, menahan diri, dan melatih kesabaran, tiba saatnya merayakan kemenangan.
Mungkin itulah mengapa silaturahmi selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari Lebaran. Karena Lebaran adalah momen yang Allah ciptakan untuk mempertemukan kembali hati-hati yang lama terpisah.
Di hari yang fitri, kita diajak untuk saling memaafkan dengan tulus, melepas segala beban prasangka, dan memulai lembaran baru dalam hubungan kemanusiaan.
Perjalanan mudik, terutama di Indonesia dengan tantangan macet dan jarak tempuh yang jauh, sering kali menguras energi. Namun, alih-alih mengeluh, kita bisa menjadikan setiap tetes keringat dan lelah ini sebagai ibadah.
Kuncinya adalah niat yang benar dan doa yang dipanjatkan.
Rasulullah SAW mengajarkan doa khusus untuk perjalanan, yang diriwayatkan dalam HR. Tirmizi No. 3438:
Allahumma antash shaahibu fis safar, wal khalifatu fil ahli. Allahumma shahibnaa binushhika, waqlibnaa bidzimmah. Allahumma-zwi lanal ardha, wa hawwin 'alainas safar. Allahumma inni a'udzu bika min wa'tsa-is safari, wa kaabatil munqalab.
Artinya:
"Ya Allah, Engkau adalah penjaga dalam perjalanan dan pengganti dalam (mengurus) keluarga. Ya Allah, temanilah kami dengan nasihat-Mu dan kembalikanlah kami (ke tempat kami) dengan perlindungan-Mu. Ya Allah, lipatlah bumi bagi kami dan mudahkanlah perjalanan kami. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan dan kesusahan saat kembali."
Dengan membaca doa ini, lelah perjalanan kita berubah menjadi lillah—karena Allah, dan semoga bernilai ibadah di sisi-Nya.
Pada akhirnya, mudik dan silaturahmi Lebaran adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam tentang ukhuwah (persaudaraan). Manusia diciptakan Allah dalam keragaman—suku, bangsa, bahasa—agar saling mengenal dan menjalin hubungan baik.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
Mudik adalah implementasi nyata dari perintah li ta'arafu (saling mengenal) itu. Ia mengingatkan kita bahwa sejauh apa pun kita merantau, sehebat apa pun pencapaian kita di kota, akar kita tetap di kampung halaman bersama orang-orang yang pernah membersamai perjalanan hidup kita.
Mudik tahun ini, mari kita niatkan bukan sekadar tradisi tahunan. Jadikan ia sebagai perjalanan spiritual untuk memperbaiki hubungan yang mungkin renggang. Buka hati, maafkan kesalahan, dan rajut kembali tali silaturahmi yang sempat kendur.
Karena pada akhirnya, yang kita cari dalam mudik bukan hanya pelukan hangat keluarga, tapi juga ketenangan hati yang hanya bisa hadir ketika hubungan dengan sesama manusia terjaga dengan baik.
Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
.jpeg)
.png)