Heri Abu Mahbubi
Dalam agenda Rapat Kerja Departemen Marketing Quran Cordoba, Bunda Ary Indriyani mengajak tim melihat sosok Tintin dari perspektif lain: bukan superhero, melainkan pribadi yang curious, proactive, resourceful, memiliki growth mindset, dan berpikir global.

Quran Cordoba - Lazimnya rapat kerja selalu identik dengan target, angka, evaluasi, dan strategi bisnis. Namun, Rapat Kerja Departemen Marketing Quran Cordoba menghadirkan perspektif yang berbeda. Ada cerita hikmah dari petualangan Tintin.
Dalam salah satu sesi pemaparannya, Direktur Marketing dan Sales Quran Cordoba, Bunda Ary Indriyani, mengajak tim marketing belajar dari sosok cerita unik sebagai inspirasi dunia marketing: Tintin.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: “Why Tintin?”
Mengapa karakter komik Tintin menjadi bahan pembelajaran bagi tim Marketing Quran Cordoba?
Jawabannya bukan karena Tintin adalah seorang superhero. Justru sebaliknya, Tintin digambarkan sebagai orang biasa yang memiliki rasa ingin tahu, berani berfikir, terus belajar berinovasi, dan bertumbuh dalam perjalanannya.
Semua karyawan di Marketing Cordoba ditanya siapa yang tahu cerita Tintin? Siapa yang pernah nonton filmnya, atau minimal pernah mendengar ada komik tentang Tintin?
Tahun 70 sampai 90 an komiknya sangat terkenal, bacaan favorit anak-anak di zaman itu, berbeda dengan bacaan atau tontonan Gen Z sekarang.
Pembelajarannya, yaitu karakter Tintin yang unik, ada lima nilai yang relevan dengan kebutuhan marketer Quran Cordoba menghadapi perubahan zaman.
Lima karakter tersebut adalah Curious, Proactive, Resourceful, Growth Mindset, dan Global.
Karakter pertama yang dapat dipelajari dari Tintin adalah curious atau rasa ingin tahu.
Tintin selalu bertanya, mencari tahu, melakukan eksplorasi, dan tidak cepat puas dengan jawaban biasa. Bagi seorang marketer, rasa ingin tahu menjadi modal penting.
Dunia marketing terus berubah. Konsumen berubah. Media berubah. Teknologi berubah. Cara orang mencari informasi juga berubah.
Karena itu, marketer tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Curious berarti terus bertanya: Apa yang berubah? Apa yang dibutuhkan customer? Apa yang bisa kita pelajari? Apa yang belum kita ketahui?
Dalam konteks Quran Cordoba, Bunda Ary mendorong rasa ingin tahu tersebut, agar tim marketing semakin memahami umat, perilaku konsumen pencinta Al-Quran, perkembangan Mushaf, publishing buku Islami, serta perubahan teknologi AI yang dapat memperkuat syiar global.
Rasa ingin tahu juga menjadi pintu menuju learning. Data + AI + Experimentation menjadi bagian dari proses pembelajaran yang perlu terus dilakukan.
Nilai kedua adalah proactive.
Tintin bukan tipe karakter yang hanya menunggu masalah datang kemudian bereaksi. Ia bergerak, mencari informasi, dan mengambil tindakan ketika melihat persoalan.
Karakter ini sangat relevan dengan dunia marketing.
Seorang marketer tidak cukup hanya bertanya: “Apa yang harus saya kerjakan?”
Pertanyaan yang lebih produktif adalah: “Apa yang bisa saya kontribusikan?”
Perubahan cara berpikir tersebut menggeser seseorang dari task oriented menjadi individu yang mampu melihat peluang, kreatif, dan mengambil inisiatif.
Bukan sekadar menunggu instruksi, tetapi memiliki goals dan plan yang jelas terhadap perubahan.
Karakter ketiga adalah resourceful, yaitu kemampuan mencari cara ketika situasi berubah.
Dalam perjalanan Tintin, berbagai persoalan tidak selalu dapat diselesaikan dengan cara yang sama. Ia harus berpikir, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, dan menemukan solusi.
Hal serupa terjadi dalam pekerjaan marketing.
Tidak semua strategi berjalan sesuai rencana. Tidak semua konten mendapatkan respons yang diharapkan. Tidak semua campaign menghasilkan performa yang sama.
Di sinilah marketer membutuhkan kemampuan problem solving.
Resourceful berarti mampu memanfaatkan berbagai sumber daya—data, teknologi, media sosial, pengalaman, tim, kreativitas, hingga AI—untuk menemukan inovasi yang relevan.
Creative + Adaptive menjadi kombinasi penting untuk menghadapi perubahan.
Nilai keempat adalah growth mindset.
Tintin bukan orang yang sejak awal mengetahui segala sesuatu. Ia belajar dari perjalanan, menghadapi risiko, menemukan kesalahan, dan terus bertumbuh.
Inilah mindset yang dibutuhkan dalam dunia marketing yang berubah cepat.
Bukan karena sudah tahu semuanya, tetapi karena mau terus belajar.
Dalam konteks Quran Cordoba, Bunda Ary memotivasi, ini bukan sekadar job dan salary. Pekerjaan juga menjadi ruang untuk belajar, berkembang, membangun kemampuan, dan menghasilkan kontribusi yang besar.
Growth mindset membuat seseorang tidak berhenti ketika menghadapi kesulitan.
Bagi tim marketing, mindset ini menjadi semakin penting karena tantangan yang dihadapi tidak pernah berhenti.
Hari ini belajar content. Besok belajar AI. Kemudian memahami data, customer insight, strategi marketing, hingga perkembangan dunia digital.
Skill berkembang. Habit berubah. Value bertambah. Result meningkat.
Karakter kelima adalah global.
Tintin melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan bertemu dengan beragam karakter serta situasi. Perjalanan tersebut membuat cara pandangnya tidak terbatas pada satu lingkungan.
Semangat inilah yang ingin dibangun dalam perjalanan Quran Cordoba secara bertahap menuju International Islamic Publishing House.
Marketing Quran Cordoba tidak cukup hanya berpikir tentang pasar hari ini. Tim juga perlu melihat perubahan yang terjadi di dunia, memahami perspektif yang lebih luas, dan membawa perspektif global ke dalam pekerjaan.
Global thinking berarti mampu melihat lebih jauh dari diri sendiri, memahami perspektif yang berbeda, serta membawa dampak positif di mana pun berada.
Visi ini sejalan dengan empat positioning Quran Cordoba menuju 2030: Quran Expert, Innovative, dan Global Impact.
Melalui Global Impact, manfaat yang hadir semakin luas bagi Indonesia dan dunia internasional.
Pada akhirnya, pesan “Why Tintin?” Ada pelajaran karakter yang jauh lebih penting.
Tintin bukan superhero.
Ia adalah sosok yang digambarkan sebagai orang biasa yang memiliki rasa ingin tahu, berani bergerak, terus belajar, mencari solusi, dan menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan.
Karakter tersebut justru relevan dengan kehidupan seorang marketer.
“Tintin melihat, berpikir, bergerak, mencari tahu, dan menyelesaikan.”
Nilai tersebut menjadi refleksi penting bagi tim Marketing Quran Cordoba dalam menghadapi tantangan masa depan.
Pembelajaran tentang Tintin kemudian menjadi bagian dari refleksi dalam Rapat Kerja Tim Marketing Quran Cordoba.
Perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi, terutama Artificial Intelligence (AI), menuntut setiap individu untuk terus meningkatkan diri.
AI dapat membantu dalam creativity, content, marketing strategy, hingga human insight. Namun, teknologi tetap membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, adaptif, dan memahami jiwa manusia.
Dari sosok Tintin, Bunda Ary Indriyani mengajak tim marketing untuk membawa lima karakter dalam pekerjaan sehari-hari:
Curious. Proactive. Resourceful. Growth Mindset. Global.
Lima karakter tersebut diharapkan menjadi bekal bagi tim untuk menghadapi perjalanan Quran Cordoba menuju International Islamic Publishing House. InsyaAllah
Berita Terkait: Grateful Today, More Determined for Tomorrow Menjadi Inspirasi RAKER Marketing



%20(1).jpg)