Artikel

Buka Puasa Bersama: Menyelami Hikmah ‘BUKBER’ Ramadan yang Terbukti Secara Medis

Heri mahbub

February 20, 2026

Temukan hikmah Puasa Ramadan yang menakjubkan! Rahasia medis di balik buka puasa bersama tepat waktu, kaitannya dengan umur panjang, kasih sayang, dan kesehatan berdasarkan ilmu Quran medis.

Buka puasa bersama dan hikmah medisnya

Quran Cordoba - Ketika azan Magrib berkumandang, ada satu momen yang dinanti oleh setiap muslim di penjuru dunia: buka puasa.

Ritual yang sederhana ini bukan sekadar pemuasan dahaga dan lapar setelah seharian menahan diri. Ia adalah pintu gerbang menuju kekayaan spiritual, sosial, dan kesehatan yang luar biasa.

Di Indonesia, tradisi ini selaras dengan budaya makan bareng keluarga besar atau komunitas, sebuah praktik yang kita kenal dengan istilah ‘bukber’ buka bersama.

Artikel ini akan mengajak Anda menyelami hikmah Ramadan yang tersembunyi di balik dua ritual utama ini—berbuka tepat waktu dan kebersamaan saat makan—dengan mengungkap keselarasan menakjubkannya dengan temuan ilmu pengetahuan modern atau Quran medis.

Rahasia Medis ‘Bukber’ yang Bikin Umur Panjang!

Saat Ramadan, grup WhatsApp kita kerap ramai dengan undangan satu acara penting: jadwal bukber.

Tradisi kumpul untuk buka bersama, makan bareng orang-orang tersayang ini lebih dari sekadar ajang kuliner; ia adalah ritual sosial yang secara nyata meningkatkan semangat dan memperkuat ikatan.

Namun, tahukah Anda bahwa di balik kegembiraan dan rasa kenyang yang ditimbulkannya, tersimpan rahasia spiritual dan medis yang mendalam, yang menjadi fondasi kokoh di bulan suci?

Rasulullah SAW telah memberikan panduan agung tentang nilai silaturahmi. Beliau bersabda:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : أَنَا الرَّحْمَنُ ، خَلَقْتُ الرَّحِمَ ، وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنَ اسْمِي ، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ

Allah 'azza wajalla berfirman, "Akulah Sang Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku pula yang mengambilkannya dari nama-Ku, Siapa yang menyambung rahim, maka Aku pun menyambungkan hubungan dengannya.” (HR. Bukhari, 5988).


Mana orang-orang yang saling berkasih sayang karena keagungan-Ku? Hari ini Ku-naungi mereka dalam naungan-Ku…” (HR. Muslim, 2566).

Buka bersama dalam perspektif ini, adalah medium konkret untuk “menjemput” kasih sayang dan naungan Allah secara langsung.

Ia adalah langkah aktif untuk menyambung tali persaudaraan (rahim), yang janji balasannya adalah penyambungan hubungan dengan Allah itu sendiri. Lalu, bagaimana ilmu modern memandang praktik penuh berkah ini?

Koneksi Sosial: Senjata Ampuh Melawan Penuaan Sel

Riset medis kontemporer mengungkap hubungan yang erat antara koneksi sosial yang kuat dengan umur panjang dan kesehatan yang lebih baik.

Sebuah studi penting yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) oleh Lee et al. (2021) menunjukkan bahwa isolasi sosial dan kesepian kronis berkaitan dengan peningkatan stres oksidatif dan peradangan dalam tubuh.

Stres oksidatif adalah kondisi di mana radikal bebas merusak sel-sel sehat, yang merupakan salah satu mekanisme kunci dalam proses penuaan dan munculnya penyakit degeneratif.

Dengan kata lain, saat kita berkumpul, bercanda, dan makan bareng dalam suasana ibadah, kita sebenarnya sedang mengaktifkan “sistem pendukung” yang mengurangi beban psikologis dan fisiologis tubuh. Kita mengusir kesepian, yang secara medis terbukti merusak sel.

Emosi Positif: Obat Alami bagi Jantung dan Pikiran

Lebih lanjut, penelitian yang dilakukan oleh Uchino et al. (2023), seperti yang dirangkum dalam tinjauan ilmiah, menggarisbawahi bagaimana dukungan sosial dan emosi positif—seperti rasa dicintai, diperhatikan, dan bahagia saat berkumpul—dapat memicu pelepasan hormon dan neurotransmiter yang menyehatkan.

Hormon seperti oksitosin (“hormon pelukan”) dan dopamin meningkat, sementara hormon stres seperti kortisol menurun.

Efeknya adalah sistem kardiovaskular yang lebih terjaga, tekanan darah yang lebih stabil, dan ketahanan tubuh yang lebih baik terhadap stres.

Kesehatan fisik yang terjaga melalui silaturahmi inilah yang, secara ilmiah, meningkatkan peluang untuk hidup lebih panjang dan lebih berkualitas.

Jadi, habis ‘bukber’ kita merasa “plong” dan lebih siap menjalani Ramadan selanjutnya bukan hanya karena kenyang, tetapi karena tubuh dan jiwa kita benar-benar telah “di-charge” oleh kekuatan kasih sayang.

Ilmu Medis 'Bukber' Pas Magrib: Sel Tubuh Baru Siap ‘Makan’

Setelah memahami persiapan sosialnya, kini kita masuk ke inti ritual harian Ramadan: buka puasa. Mengapa kita diwajibkan berbuka tepat saat matahari terbenam (Magrib), bukan lebih cepat atau lebih lambat?

Pertanyaan sederhana ini membawa kita pada salah satu keajaiban timing dalam ibadah puasa. Nabi SAW bersabda:

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا وَغَرَبَتْ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

Jika malam telah datang dari sana dan siang telah berlalu dari sana serta matahari telah tenggelam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka.” (HR. Bukhari, 1954).

Durasi puasa sekitar 13-14 jam (tergantung geografi) ini ternyata bukan angka sembarangan. Ini adalah periode yang menghargai ritme sirkadian (jam biologis) tubuh manusia.

Tubuh butuh istirahat panjang dari proses mencerna (puasa), tetapi juga memerlukan pengisian nutrisi kembali pada waktunya untuk memulai proses regenerasi malam hari.

Puasa Ramadan: Sebuah ‘Reset’ Profeomik yang Bersifat Antikanker

Temuan ilmiah yang sangat menarik datang dari penelitian yang menelaah efek puasa Ramadan pada Profil Proteomik Serum. Proteomik adalah studi tentang keseluruhan protein yang diekspresikan oleh suatu sel atau organisme.

Sebuah penelitian (seperti yang dirujuk dalam literatur Quran medis) menunjukkan bahwa puasa dari fajar hingga magrib selama 30 hari berturut-turut dapat menginduksi perubahan signifikan pada profil protein dalam darah.

Perubahan ini di antaranya mengarah pada peningkatan ekspresi protein-protein yang terlibat dalam perbaikan sel, detoksifikasi, dan—yang luar biasa—memiliki sifat antikanker.

Ini berarti, puasa Ramadan bukan hanya “mengistirahatkan” pencernaan, tetapi melakukan reset dan reprogramming pada level seluler yang sangat mendasar.

Manfaat Kumulatif: Dari Efisiensi Energi Hingga Perbaikan DNA

Selain potensi antikanker, puasa selama 30 hari berturut-turut—meski durasi hariannya bervariasi di tiap negara—menciptakan efek kumulatif yang memberikan manfaat kesehatan jangka panjang, antara lain:

1. Efisiensi Metabolisme: Tubuh belajar mengolah cadangan gula (glikogen) dan lemak menjadi energi dengan lebih efisien, meningkatkan sensitivitas.

2. Autofagi: Ini adalah proses pembersihan seluler alami di mana sel-sel tubuh “memakan” dan mendaur ulang komponen-komponennya sendiri yang rusak atau tidak berfungsi.

Proses ini, yang mencapai puncaknya setelah beberapa jam berpuasa, sangat penting untuk peremajaan sel dan bahkan perbaikan kerusakan pada level DNA.

Dengan demikian, buka puasa di waktu Magrib adalah penanda berakhirnya periode pembersihan dan perbaikan sel intensif ini, sekaligus saat yang tepat untuk memberikan bahan baku berkualitas (makanan bergizi) untuk fase pemulihan dan pertumbuhan sel di malam hari.

Hikmah Dari Makan Bareng ke Buka Puasa yang Bermakna

Hikmah Ramadan menjadi begitu lengkap ketika kita menyatukan kedua sisi ini. Makan bareng (buka puasa bersama) memperkuat fondasi sosial dan emosional kita, melindungi kita dari stres dan kesepian yang merusak kesehatan.

Sementara, disiplin buka puasa tepat waktu dan puasa itu sendiri memberikan keajaiban Quran medis: reset tubuh, perbaikan sel, dan peningkatan kesehatan yang terdokumentasi. Tentu jangan lupa hikmah ibadah salat berjamaah setelahnya.

Allah SWT tidak hanya memerintahkan puasa sebagai ujian ketaatan belaka. Ia menetapkannya sebagai mekanisme rahmat—sebuah prescription ilahi—untuk merawat manusia secara holistik; jiwa, raga, dan hubungan sosialnya.

Marilah kita menyambut setiap waktu bukber dirrumah, dikantor, masjidbuka puasa dan setiap undangan makan bareng dengan kesadaran penuh akan hikmah agung di baliknya.

Dengan begitu, Ramadan kita tidak hanya penuh pahala, tetapi juga menjadi momentum transformasi menuju hidup yang lebih sehat, bahagia, dan panjang dalam keberkahan.

Sumber: Quran medis dan Jurnal Kesehatannya

Baca Juga

Buka Puasa Bersama: Menyelami Hikmah ‘BUKBER’ Ramadan yang Terbukti Secara Medis

Heri mahbub
February 20, 2026
Temukan hikmah Puasa Ramadan yang menakjubkan! Rahasia medis di balik buka puasa bersama tepat waktu, kaitannya dengan umur panjang, kasih sayang, dan kesehatan berdasarkan ilmu Quran medis.
Selengkapnya

Penetapan Awal Ramadan dan Idul Fitri: Metode Hisab dan Rukyat serta Pentingnya Keputusan Ulil Amri

Heri Mahbub
February 10, 2026
Bagaimana cara menetapkan awal Ramadan dan Idul Fitri? Simak penjelasan lengkap tentang kewajiban puasa, metode hisab dan rukyat, dalil Al-Qur’an dan hadis, serta pentingnya keputusan pemerintah demi menjaga persatuan umat.
Selengkapnya
Official Store
tokopedia-cordoba
Follow Us
Kantor Pusat
Jl. Sukajadi no. 215 Gegerkalong, Kec. Sukasari, Kota Bandung,
‍Tlp : (022) 2008 776
Kantor Pemasaran Jakarta
Jalan Raya Kodau Kavling P&k No.174 Jatimekar - Jatiasih Bekasi 17422
Tlp : (021) 84981836
Kantor Pemasaran Surabaya
Jl. Ketintang Madya II No. 5, Kel. Karah , Kec Jambangan Kota Surabaya - Jawa Timur 60232
WA : +62 852-1719-4370
qurancordoba.com - Copyright 2021